Memori Perempuan Cham yang Hampir Lenyap Kini Ditenun Kembali Jadi Peluang Wisata Halal Kamboja
Baca dalam 60 detik
- Tradisi sutra Cham yang hampir musnah akibat genosida Khmer Merah dihidupkan kembali melalui ingatan perempuan penyintas, menjadi produk budaya unggulan dalam forum pariwisata ramah Muslim Kamboja.
- Inisiatif ini tidak hanya merekonstruksi teknik tenun tradisional, tetapi juga menawarkan model ekonomi berkelanjutan bagi komunitas Cham, dengan target menarik wisatawan Muslim global.
- Kisah sutra Cham menjadi contoh bagaimana warisan budaya yang nyaris punah dapat diintegrasikan ke dalam strategi pariwisata nasional, membuka peluang serupa bagi Indonesia yang memiliki kekayaan tradisi tenun dan pasar wisata halal besar.

Sebuah tradisi menenun sutra yang nyaris lenyap dalam kekejaman rezim Khmer Merah di Kamboja kini kembali hidup, bukan hanya sebagai warisan budaya, tetapi juga sebagai motor ekonomi baru bagi perempuan etnis Cham. Inisiatif yang digawangi oleh Queen Motherโs Library ini menempatkan ingatan para penyintas sebagai fondasi untuk merekonstruksi teknik tenun tradisional, sekaligus menjawab kebutuhan pasar pariwisata ramah Muslim yang tengah digalakkan pemerintah Kamboja.
Dalam forum Muslim Friendly Tourism Forum and Fair 2026, proyek bertajuk โCham Silk: The Colour of Memoryโ ini menjadi salah satu atraksi utama. Menteri Pariwisata Kamboja Huot Hak dan Gubernur Phnom Penh Khuong Sreng turut mengunjungi pameran tersebut. Pemerintah Kamboja memang tengah gencar mempromosikan diri sebagai destinasi aman dan menarik bagi wisatawan Muslim, dan warisan budaya Cham dinilai menjadi aset strategis untuk mencapai target itu.
Namun, di balik keindahan warna dan motifnya, kain sutra Cham menyimpan luka sejarah yang dalam. Antara 1975 dan 1979, rezim Khmer Merah melancarkan kebijakan genosida terhadap etnis Cham. Menurut data yang dipaparkan dalam inisiatif tersebut, antara 200.000 hingga 400.000 jiwa Cham melayang, dan perempuan mencakup sekitar 65 persen dari sekitar 200.000 penyintas. โSetelah 16 tahun proses hukum, para pemimpin senior Khmer Merah dinyatakan bersalah atas genosida terhadap Cham,โ ujar So Farina, direktur utama Documentation Centre of Cambodia. Namun, ia menambahkan, pengakuan hukum saja tidak cukup untuk memulihkan tradisi, pengetahuan, dan kehidupan yang hilang.
Proyek ini bekerja sama dengan para perempuan yang masih mengingat teknik menenun khas Cham. โKami merekonstruksi sutra Cham melalui ingatan hidup para perempuan yang masih tahu cara menenunnya. Ingatan tidak bisa dihapus. Ia hidup di setiap benang,โ demikian pernyataan inisiatif tersebut. Dengan mengubah ingatan menjadi produk budaya yang nyata, sutra Cham kini berada di persimpangan antara pelestarian warisan, peringatan sejarah, dan usaha berkelanjutan.
Bagi Kamboja, pengembangan pariwisata berbasis komunitas menjadi kunci untuk menarik wisatawan Muslim. Model ini memungkinkan pengunjung merasakan langsung kehidupan, sejarah, dan budaya masyarakat setempat, sementara pendapatan pariwisata mengalir ke komunitas tuan rumah. Inisiatif sutra Cham menawarkan pengalaman yang lebih dalam daripada sekadar membeli suvenir. โSutra Cham berada di persimpangan keindahan, etika, dan sejarah, mendorong dunia untuk menghargai kualitas, kelangkaan, dan makna,โ demikian pernyataan inisiatif tersebut.
Bagi Indonesia, kisah ini relevan. Indonesia memiliki kekayaan tradisi tenun yang tak kalah beragam, mulai dari songket Palembang, ulos Batak, hingga tenun ikat Nusantara. Banyak di antaranya juga terancam punah karena minimnya regenerasi pengrajin. Di sisi lain, Indonesia adalah negara dengan populasi Muslim terbesar di dunia dan pasar wisata halal yang potensial. Pelajaran dari Kamboja menunjukkan bahwa warisan budaya yang nyaris punah dapat dihidupkan kembali dan diintegrasikan ke dalam strategi pariwisata nasional, asalkan ada kemauan politik, kolaborasi lintas sektor, dan pemberdayaan komunitas.
Ke depan, tantangan terbesar bukan hanya pada rekonstruksi teknik, tetapi juga pada pemasaran dan keberlanjutan. Inisiatif Cham Silk mengakui perlunya kampanye komprehensif, perencanaan strategis, dan kerja sama aktif antara pemerintah, komunitas, pelaku pariwisata, dan pemangku kepentingan lainnya. Tanpa itu, potensi pariwisata ramah Muslim hanya akan menjadi wacana. Pertanyaannya, mampukah Indonesia โ dengan segala sumber daya budayanya โ meniru langkah Kamboja dan menjadikan tenun tradisional sebagai daya tarik wisata halal yang autentik dan bermakna?



