Teror Bom di SD Jaksel: Polisi Pastikan Aman, Pelaku Teridentifikasi
Baca dalam 60 detik
- Penyisiran oleh tim Gegana, Densus 88, dan anjing pelacak memastikan tidak ada bahan peledak di SDN Srengseng Sawah 15.
- Pelaku pengirim pesan ancaman bom telah diketahui identitasnya, namun polisi belum membeberkan detailnya.
- Kegiatan MPLS yang dibubarkan akibat teror akan dievaluasi; keputusan pembelajaran besok masih menunggu koordinasi.

Polisi memastikan lingkungan SDN Srengseng Sawah 15 di Jagakarsa, Jakarta Selatan, telah steril dari ancaman bom setelah proses penyisiran selama empat jam melibatkan tim Gegana, Densus 88, BNPT, dan anjing pelacak K9. Status aman ini diumumkan pada Senin (13/7) siang, beberapa jam setelah sekolah menerima pesan teror yang menyebutkan akan ada ledakan dalam hitungan menit.
Kapolsek Jagakarsa Kompol Nurma Dewi menyatakan bahwa seluruh tim yang dikerahkan telah menyelesaikan pemeriksaan dan tidak menemukan benda mencurigakan. "Semua sudah menyatakan aman, baik dari Gegana, Densus 88, maupun anjing pelacak yang bertugas selama empat jam," ujarnya kepada wartawan. Meski begitu, pihak sekolah dan Suku Dinas Pendidikan Jakarta Selatan masih menggelar rapat koordinasi untuk menentukan kelanjutan kegiatan belajar mengajar pada Selasa (14/7).
Teror ini terjadi bertepatan dengan hari pertama Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) yang langsung dibubarkan begitu pesan ancaman diterima. Orang tua siswa yang panik segera menjemput anak-anak mereka, dan seluruh siswa dipulangkan lebih awal. "Kegiatan MPLS sudah dibubarkan, kami koordinasi dengan semua pihak. Orang tua panik, siswa sudah pulang," kata Nurma.
Polisi mengaku telah mengantongi identitas pengirim pesan ancaman, meski belum bersedia membeberkannya. "Identitasnya sudah kami kantongi. Kami sudah mencari dan akan menindaklanjuti pelaku yang diduga melakukan teror ini," tegas Nurma. Dari tangkapan layar yang beredar, pelaku mengirim pesan dengan nada mengancam: "SELAMAT PAGI DAN SALAM SEJAHTERA, DIHARAP BERSIAP SIAP DENGAN HITUNGAN MENIT TEMPAT SEKOLAHAN SDN 15 PAGI INI AKAN MELEDAK DAN KAMI SUDAH MENYIAPKAN 11 TITIK...!!!"
Peristiwa ini memicu kekhawatiran publik tentang keamanan lingkungan sekolah, terutama di momen awal tahun ajaran baru. Pengamat keamanan menilai bahwa ancaman semacam ini, meski terbukti hoaks, tetap memerlukan respons cepat dan transparan dari aparat untuk mencegah kepanikan massal. Di sisi lain, koordinasi antara kepolisian, dinas pendidikan, dan pihak sekolah menjadi kunci dalam memulihkan rasa aman para orang tua dan siswa.
Ke depan, pertanyaan yang mengemuka adalah bagaimana sistem deteksi dini dan prosedur evakuasi di sekolah-sekolah Indonesia dapat ditingkatkan untuk menghadapi ancaman serupa. Apakah insiden ini akan mendorong penerapan standar keamanan yang lebih ketat, atau justru menjadi alarm bagi pihak berwenang untuk memperkuat patroli siber guna mencegah penyebaran teror psikologis?



