Bank INA Gandeng Setiabudi IM, Genjot Pendapatan Non-Bunga Lewat Wealth Management
Baca dalam 60 detik
- Bank INA menggandeng Setiabudi Investment Management untuk memasarkan reksa dana, memperkuat lini wealth management di tengah tekanan likuiditas.
- Langkah ini menjadi strategi diversifikasi pendapatan di luar kredit, sejalan dengan tren perbankan nasional yang menggenjot fee-based income.
- Kemitraan diharapkan memperluas akses investasi bagi nasabah ritel, sekaligus mendorong pertumbuhan laba jangka panjang.

PT Bank Ina Perdana Tbk (BINA) resmi menggandeng PT Setiabudi Investment Management untuk memasarkan produk reksa dana kepada nasabah, sebagai bagian dari strategi memperkuat bisnis wealth management di tengah tekanan likuiditas. Kerja sama ini diumumkan dalam acara BINA Insight: Market Outlook & New Opportunities 2026 di Jakarta, Kamis (9/7/2026).
Langkah tersebut menjadi sinyal bahwa Bank INA, yang merupakan bagian dari grup Salim, tengah berupaya mendiversifikasi sumber pendapatan di luar bunga kredit. Wakil Direktur Utama Bank INA, Yulius Purnama Junaedi, mengungkapkan bahwa kebutuhan nasabah terhadap layanan perbankan terus berkembang, tidak hanya sekadar tempat menyimpan dana tetapi juga solusi pengelolaan aset yang memberikan nilai tambah.
"Kemitraan dengan Setiabudi Investment Management menghadirkan opsi instrumen investasi di reksa dana yang terjangkau, mudah dipahami masyarakat, namun tetap memiliki potensi keuntungan yang optimal dan aman," ujar Yulius dalam keterangan tertulis, Senin (13/7/2026). Ia menambahkan, kerja sama ini diharapkan mempermudah nasabah mendiversifikasi aset sekaligus mendukung perencanaan keuangan jangka panjang.
Direktur Utama PT Setiabudi Investment Management, Marto Sutiono, menilai kolaborasi ini akan memperluas distribusi produk reksa dana yang dikelola perusahaannya. Menurutnya, jaringan Bank INA dapat menjadi katalis untuk memperkenalkan produk investasi berbasis riset fundamental kepada lebih banyak investor. Hal ini sejalan dengan tren industri manajemen investasi yang terus mendorong literasi keuangan dan akses pasar modal bagi investor ritel.
Bagi pembaca di Indonesia, langkah Bank INA ini mencerminkan pergeseran strategi perbankan nasional yang mulai mengandalkan pendapatan berbasis komisi (fee-based income) di tengah pertumbuhan kredit yang melambat. Data laporan keuangan per Maret 2026 menunjukkan, kredit yang diberikan bank ini turun menjadi Rp14,34 triliun dari Rp14,86 triliun pada akhir 2025, sementara DPK juga menyusut menjadi Rp25,04 triliun dari Rp27,26 triliun. Meski demikian, laba bersih Bank INA pada kuartal I-2026 melonjak menjadi Rp52,98 miliar, dibandingkan Rp14,37 miliar pada periode yang sama tahun sebelumnya. Kenaikan tersebut ditopang oleh penerimaan kembali kredit yang telah dihapusbukukan sebesar Rp91,39 miliar.
Ke depan, keberhasilan strategi wealth management Bank INA akan sangat bergantung pada kemampuan bank dalam mengedukasi nasabah dan memperluas basis investor ritel. Dengan persaingan yang semakin ketat di sektor perbankan, apakah langkah ini cukup untuk menjaga pertumbuhan laba jangka panjang tanpa mengandalkan pendapatan luar biasa dari penghapusbukuan kredit?



