SkyDrive Uji Terbang Taksi Terbang Berkecepatan Tinggi, Target Operasi 2028
Baca dalam 60 detik
- Startup Jepang SkyDrive sukses melakukan demonstrasi terbang jelajah dengan eVTOL di Yamaguchi, mencapai kecepatan 86 km/jam.
- Perusahaan menargetkan layanan komersial pada 2028 di Osaka dan Oita, setelah mencapai kestabilan terbang 100 km/jam pada Juni lalu.
- Taksi terbang listrik ini diharapkan menjadi solusi kemacetan perkotaan, membuka peluang bagi Indonesia yang tengah menjajaki teknologi serupa.

Startup Jepang SkyDrive Inc. kembali mencuri perhatian dengan demonstrasi terbang berkecepatan tinggi kendaraan lepas landas dan mendarat vertikal (eVTOL) di Yamaguchi, Jepang Barat, Senin (13/7). Uji coba ini mensimulasikan tur wisata udara di atas Laut Seto Inland, menandai langkah maju menuju komersialisasi taksi terbang yang ditargetkan beroperasi pada 2028.
Dalam demonstrasi tersebut, pesawat berkapasitas tiga orangโtermasuk pilotโterbang sejauh 2 kilometer dengan kecepatan puncak 86 kilometer per jam. Dengan baling-baling ganda di atasnya, eVTOL itu lepas landas vertikal, melayang menuju laut, berputar, dan kembali ke titik awal dalam waktu enam menit. Penerbangan ini diulang dua kali untuk menunjukkan konsistensi performa.
CEO SkyDrive Tomohiro Fukuzawa menyatakan bahwa demonstrasi ini memberikan gambaran nyata tentang potensi wisata udara yang ramah lingkungan. โSaya harap ini memberi Anda gambaran bagaimana kita dapat menjelajahi Laut Seto Inland yang indah dengan cara yang menghormati lingkungan dan komunitas lokal,โ ujarnya. Perusahaan yang berbasis di Toyota, Prefektur Aichi, ini sebelumnya telah sukses melakukan uji terbang di World Exposition Osaka tahun lalu.
Keberhasilan SkyDrive tidak lepas dari dukungan pemerintah Jepang yang gencar mendorong pengembangan mobilitas udara perkotaan (UAM). Teknologi eVTOL dianggap sebagai solusi untuk mengatasi kemacetan kronis di kota-kota besar seperti Tokyo dan Osaka. Dengan kemampuan lepas landas dan mendarat vertikal, kendaraan ini tidak membutuhkan landasan pacu panjang, sehingga dapat diintegrasikan ke infrastruktur kota yang sudah ada.
Bagi Indonesia, perkembangan ini menjadi relevan mengingat kemacetan di Jakarta dan kota-kota besar lainnya yang semakin parah. Pemerintah Indonesia melalui Kementerian Perhubungan telah mulai menjajaki regulasi untuk taksi terbang, termasuk menjalin kerja sama dengan beberapa startup asing. Namun, tantangan seperti infrastruktur vertiport, regulasi ruang udara, dan biaya operasional masih perlu diatasi. Langkah SkyDrive bisa menjadi tolok ukur bagi pengembang lokal untuk mempercepat riset dan uji coba serupa.
Para analis menilai bahwa pasar eVTOL global diperkirakan mencapai miliaran dolar dalam satu dekade ke depan, dengan Jepang dan negara-negara Asia Tenggara menjadi kawasan pertumbuhan utama. SkyDrive sendiri berencana mengajukan sertifikasi tipe ke otoritas penerbangan Jepang dalam waktu dekat. Pertanyaan besarnya: apakah Indonesia siap menyambut era taksi terbang, atau akan kembali tertinggal dalam inovasi transportasi?



