Presiden Singapura Kunjungi Malaysia: Perkuat Kemitraan Ekonomi yang Langka di Tengah Fragmentasi Global
Baca dalam 60 detik
- Presiden Tharman menekankan hubungan bilateral Singapura-Malaysia sebagai model kemitraan langka yang berfokus pada masa depan.
- Proyek Zona Ekonomi Khusus Johor-Singapura dan RTS Link menjadi simbol integrasi ekonomi yang saling menguntungkan.
- Kunjungan ini membuka peluang bagi Indonesia untuk belajar dari kolaborasi lintas batas yang efektif di kawasan.

Presiden Singapura Tharman Shanmugaratnam, dalam kunjungan kenegaraan perdananya ke Malaysia pada Senin (13/7), menegaskan bahwa kedua negara tengah memperkuat kemitraan ekonomi yang sudah kokoh. Pertemuan dengan Raja Malaysia Sultan Ibrahim Sultan Iskandar di Istana Negara menjadi panggung untuk menonjolkan proyek-proyek strategis yang mencerminkan ambisi bersama, di tengah meningkatnya ketidakpastian global.
Tharman menyebut Zona Ekonomi Khusus Johor-Singapura (JS-SEZ) dan Sistem Transit Cepat (RTS) Link Johor Bahru-Singapura sebagai bukti nyata dari upaya memperdalam saling melengkapi ekonomi. "Kedua proyek ini mencerminkan keinginan bersama untuk menumbuhkan komplementaritas ekonomi kita," ujarnya. RTS Link, yang ditargetkan beroperasi penuh pada akhir 2026, diproyeksikan tidak hanya memangkas waktu tempuh, tetapi juga meningkatkan arus wisatawan, pasien, dan pelajar antara kedua negara.
Dalam pernyataannya, Tharman menggarisbawahi kualitas unik hubungan bilateral yang sulit ditemukan di tempat lain. "Hubungan ini adalah pilihan konsisten setiap generasi kepemimpinan untuk terus memandang ke depan dan membangun bersama," katanya. Ia mengakui adanya isu-isu rumit yang muncul dari ketergantungan timbal balik, namun kedua pihak tidak membiarkan hal itu mengganggu kerja sama di bidang baru. "Fokus pada tujuan besar tumbuh bersama telah membuat hubungan ini tangguh, bahkan langka di dunia saat ini," tambahnya.
Kunjungan ini merupakan balasan atas kunjungan kenegaraan Sultan Ibrahim ke Singapura pada Mei 2024. Tharman menyoroti bahwa banyak keluarga Singapura memiliki ikatan sejarah dan berkelanjutan di seberang perbatasan, sementara ribuan warga Malaysia dan Singapura bekerja serta tinggal di negara masing-masing. "Rasa kekerabatan dan kemitraan yang abadi ini memberi kami kepercayaan diri tambahan saat menavigasi dunia yang semakin terpecah," ujarnya.
Bagi Indonesia, dinamika ini menawarkan pelajaran berharga. Kedekatan geografis dan sejarah yang mirip dengan Malaysia belum dimanfaatkan secara optimal dalam proyek-proyek integrasi seperti konektivitas Kalimantan atau kerja sama ekonomi di perbatasan. Keberhasilan JS-SEZ dan RTS Link dapat menjadi referensi bagi Indonesia untuk mempercepat proyek serupa, misalnya di Batam-Bintan-Karimun atau konektivitas dengan Malaysia di Kalimantan Utara. Namun, tantangan regulasi dan koordinasi antarlembaga masih menjadi hambatan utama.
Tharman menekankan bahwa infrastruktur fisik dan ekonomi harus bertumpu pada fondasi sosial yang lebih dalam. "Pada akhirnya, infrastruktur yang kita kembangkan bergantung pada afinitas sosial yang mendasar," katanya. Pernyataan ini relevan bagi Indonesia, di mana hubungan antarmasyarakat di perbatasan seringkali lebih kuat dibandingkan kerja sama formal pemerintah. Pertanyaannya, mampukah Indonesia meniru pendekatan Singapura-Malaysia yang mengedepankan visi jangka panjang di atas perbedaan sesaat?



