Rebutan Bangku Depan di Hari Pertama Sekolah: Antara Harapan Fokus dan Kebiasaan Tahunan
Baca dalam 60 detik
- Orang tua siswa di Tangerang rela datang sejak pukul 06.00 WIB demi mendapatkan bangku barisan depan untuk anak mereka pada hari pertama sekolah.
- Fenomena ini sudah menjadi tradisi tahunan, didorong keyakinan bahwa posisi duduk depan membantu anak lebih fokus dan mudah diawasi guru.
- Praktik rebutan bangku mencerminkan kecemasan orang tua terhadap kualitas pembelajaran, namun juga memicu pertanyaan tentang efektivitas strategi tersebut.

Ratusan orang tua siswa di SD Negeri Bojong Nangka, Kecamatan Pagedangan, Kabupaten Tangerang, rela berdesakan sejak pagi buta demi mengamankan bangku barisan depan untuk anak-anak mereka pada hari pertama masuk sekolah, Senin (13/7).
Fenomena tahunan ini kembali terulang di awal tahun ajaran baru. Para wali murid, mayoritas ibu-ibu, tampak antre di depan pintu kelas sejak pukul 06.00 WIB, bahkan ada yang datang setelah salat Subuh. Mereka berebut kursi di deretan terdepan dengan harapan anak bisa lebih fokus menerima pelajaran dan lebih mudah dipantau guru.
"Anak saya baru masuk kelas satu, kakaknya SMP. Saya datang jam enam pagi karena takut tidak kebagian bangku. Alhamdulillah dapat di barisan kedua, biar kelihatan. Kalau di belakang takutnya enggak kelihatan," ujar Wati, salah seorang wali murid.
Hal senada diungkapkan Fitri, yang mengaku memilih datang lebih awal untuk mendapatkan posisi duduk terbaik bagi putranya. "Dari selesai salat Subuh udah rapi-rapi, biar dapat bangku terbaik agar fokus belajarnya," katanya.
Tak hanya berebut bangku, sejumlah orang tua juga memilih menunggu di luar kelas selama kegiatan belajar mengajar berlangsung. Mereka bertahan hingga pelajaran selesai sebagai bentuk pendampingan di hari pertama sekolah. Praktik ini menunjukkan betapa besarnya perhatian orang tua terhadap pendidikan anak, namun juga memunculkan pertanyaan tentang efektivitas strategi tersebut.
Menurut psikolog pendidikan dari Universitas Indonesia, Dr. Rina Setiawati, keinginan orang tua untuk mendapatkan bangku depan sebenarnya wajar, namun belum tentu menjamin peningkatan fokus belajar. "Faktor utama konsentrasi anak lebih dipengaruhi oleh metode pengajaran guru dan kesiapan mental anak, bukan semata posisi duduk. Orang tua sebaiknya lebih fokus pada pendampingan belajar di rumah," jelasnya.
Fenomena rebutan bangku ini bukan hanya terjadi di Tangerang, melainkan sudah menjadi tradisi di berbagai daerah di Indonesia setiap awal tahun ajaran. Di era digital saat ini, di mana banyak sekolah telah menerapkan sistem pembelajaran berbasis teknologi, ironisnya perebutan kursi fisik masih menjadi pemandangan umum. Hal ini mencerminkan kekhawatiran orang tua terhadap kualitas pendidikan dan persaingan yang ketat sejak dini.
Ke depan, sekolah diharapkan dapat mengelola penempatan duduk secara lebih terstruktur, misalnya dengan sistem rotasi berkala agar semua siswa mendapat kesempatan duduk di depan. Langkah ini bisa mengurangi kecemasan orang tua sekaligus menanamkan nilai keadilan pada anak. Apakah tradisi rebutan bangku ini akan terus berlanjut, atau justru menjadi cermin bagi perlunya perubahan pendekatan dalam pendidikan dasar di Indonesia?



