Keputusan Newcastle Melepas Mikel Merino: Penyesalan di Tengah Krisis Lini Tengah
Baca dalam 60 detik
- Newcastle United menghadapi krisis lini tengah setelah kehilangan beberapa pemain kunci, sementara mantan pemain mereka bersinar di Piala Dunia.
- Mikel Merino, yang dijual seharga £10 juta, kini menjadi pilar Arsenal dan mencetak gol penentu bagi Spanyol di turnamen.
- Kegagalan Newcastle mempertahankan talenta muda seperti Merino dan Anderson menjadi pelajaran pahit di tengah tekanan regulasi keuangan.

Keputusan Newcastle United melepas Mikel Merino ke Real Sociedad delapan tahun lalu dengan harga sekitar £10 juta kini terasa seperti bumerang. Di tengah krisis lini tengah yang melanda The Magpies, Merino justru tampil gemilang bersama Spanyol di Piala Dunia, mencetak dua gol penentu dalam dua laga terakhirnya sebagai pemain pengganti.
Musim panas ini menjadi ujian berat bagi Newcastle. Setelah finis di peringkat ke-12 Premier League musim lalu, mereka kehilangan Sandro Tonali (ke Tottenham Hotspur) dan Anthony Gordon (ke Barcelona), sementara kapten Bruno Guimarães menyatakan ingin hengkang. Manajer Eddie Howe kini harus berburu gelandang baru di bursa transfer, namun opsi yang ada tidak semanis jika mereka masih memiliki Merino.
Merino, yang kini berusia 29 tahun, hanya tampil 25 kali untuk Newcastle sebelum dijual kembali ke Spanyol. Kariernya melejit di Real Sociedad, lalu pindah ke Arsenal pada 2024. Di Emirates, ia telah membuat 78 penampilan dalam dua musim, bahkan kerap dimainkan sebagai penyerang dadakan. Meski sempat diganggu cedera, pelatih Spanyol Luis de la Fuente tetap memasukkannya ke skuad Piala Dunia—keputusan yang terbukti tepat.
Kisah Merino bukan satu-satunya penyesalan Newcastle. Elliot Anderson, produk akademi yang dijual karena masalah Profit and Sustainability Rules (PSR) pada 2024, kini menjadi bintang Manchester City setelah dibeli seharga £116 juta. Di Piala Dunia, Anderson mencatatkan 100% dribel sukses dan assist untuk Jude Bellingham. Sementara itu, target anyar Newcastle, Johan Manzambi (20 tahun), memilih bergabung dengan Aston Villa setelah negosiasi gagal. Pemain Swiss itu mencetak kontribusi gol setiap 50 menit di turnamen.
Bagi klub sepak bola Indonesia, kasus Newcastle menjadi pengingat pentingnya manajemen talenta jangka panjang. Regulasi keuangan yang ketat—mirip dengan aturan lisensi klub di Indonesia—sering memaksa klub menjual pemain muda potensial. Namun, keputusan tergesa-gesa bisa berujung pada kerugian ganda: kehilangan pemain bintang dan potensi pendapatan transfer di masa depan. Newcastle, misalnya, hanya mendapat £10 juta untuk Merino, sementara Anderson kini bernilai lebih dari 10 kali lipat.
“Kami tidak bisa terus-menerus menyesali masa lalu. Tapi jelas, jika kami bisa mempertahankan pemain seperti Merino, situasi lini tengah kami tidak akan sekritis ini,” ujar seorang sumber internal klub yang enggan disebutkan namanya.
Dengan jendela transfer musim panas yang masih terbuka, Newcastle harus bergerak cepat. Namun, pertanyaan besarnya: akankah mereka kembali mengulangi kesalahan dengan melepas pemain muda berbakat demi memenuhi aturan keuangan? Atau justru belajar dari pengalaman pahit Merino dan Anderson?



