Konflik Teluk Mengguncang Pasar Asia: Minyak Melambung, Indeks Saham Terjun Bebas
Baca dalam 60 detik
- Ketegangan di Selat Hormuz mendorong harga minyak mentah Brent dan WTI naik lebih dari 4%, memicu kekhawatiran inflasi global.
- Pasar saham Asia-Pasifik anjlok, dengan Korea Selatan kehilangan 5,4% akibat tekanan pada sektor semikonduktor dan leveraged bets.
- Kenaikan imbal hasil obligasi AS dan penguatan dolar memperkuat ekspektasi kenaikan suku bunga The Fed, membebani aset berisiko.

Pasar keuangan Asia-Pasifik dibuka dengan tekanan berat pada Senin (13/7) setelah eskalasi konflik di kawasan Teluk memicu lonjakan harga minyak dan memperkuat kekhawatiran inflasi global. Klaim Iran mengenai penutupan Selat Hormuz—jalur vital pengangkutan minyak dunia—mendorong harga Brent melesat 4,1% ke level 79,11 dolar AS per barel, sementara minyak mentah AS naik 4,1% menjadi 74,37 dolar AS. Kondisi ini langsung membalikkan tren penurunan harga energi yang sempat terjadi dalam beberapa pekan terakhir.
Indeks saham utama di kawasan kompak memerah. Nikkei Jepang ambles 1,6%, memperpanjang pelemahan pekan lalu yang mencapai 1,7%. Indeks MSCI Asia-Pasifik di luar Jepang turun 0,9%, sementara bursa Korea Selatan—yang sebelumnya menjadi primadona—terperosok 5,4% setelah pekan lalu kehilangan hampir 8%. Pasar Korea kini menjadi barometer sentimen sektor semikonduktor global; aksi jual yang berlanjut berpotensi merembet ke bursa lain. Di sisi lain, saham SK Hynix yang tercatat di Nasdaq justru melonjak hampir 14% pada debut Jumat lalu, meski sentimen negatif masih membayangi.
Di Amerika Serikat, kontrak berjangka S&P 500 melemah 0,4% dan Nasdaq futures turun 0,9%, mengindikasikan pembukaan yang negatif. Para pelaku pasar kini menanti pidato perdana Ketua Federal Reserve Kevin Warsh di hadapan Kongres pada Selasa, yang diperkirakan akan memberikan sinyal mengenai arah kebijakan moneter. Data inflasi Juni yang akan dirilis sehari sebelumnya diprediksi menunjukkan sedikit pendinginan dari level 4,2%, namun efek kenaikan harga minyak terkini diperkirakan akan membalikkan tren tersebut.
Analis Citi dalam catatannya masih optimistis terhadap sektor teknologi, didukung pertumbuhan laba yang solid dan valuasi menarik. Namun mereka mengakui volatilitas terkait kecerdasan buatan (AI) masih tinggi. Sebaliknya, Bank of America (BofA) memperingatkan bahwa belanja modal besar-besaran di bidang AI mulai menggerus arus kas. Para hyperscaler telah menghabiskan 234 miliar dolar AS tahun ini, dan proyeksi arus kas bebas ke depan diperkirakan negatif untuk pertama kalinya sejak 2007. BofA menyarankan investor beralih ke sektor-sektor yang selama ini terabaikan karena menawarkan nilai lebih baik.
Lonjakan imbal hasil obligasi AS—dengan yield 2 tahun menyentuh level tertinggi sejak awal 2025 di 4,2393%—mengindikasikan pasar memperhitungkan kemungkinan pengetatan kebijakan moneter lebih lanjut. Fed fund futures mengisyaratkan 39 basis poin kenaikan suku bunga hingga akhir tahun. Dolar AS pun menguat, menekan euro yang lebih rentan karena Eropa sangat bergantung pada impor minyak. Yen Jepang juga terdepresiasi 0,2% ke 162,03 per dolar, meski Menteri Keuangan Satsuki Katayama sempat menggulirkan wacana mendorong dana pensiun pemerintah (GPIF) senilai 1,8 triliun dolar AS untuk mengalihkan alokasi aset ke dalam negeri. Ekonom NAB Taylor Nugent menilai perubahan alokasi GPIF dari 50/50 menjadi 60/40 domestik-ofshore akan mendorong permintaan yen, namun prosesnya lambat dan rencana investasi tahun fiskal 2026 sudah ditetapkan.
Bagi Indonesia, konflik Teluk ini membawa risiko langsung: kenaikan harga minyak akan memperbesar beban subsidi energi dan mendorong inflasi impor. Rupiah yang sempat stabil berpotensi tertekan kembali jika dolar terus menguat. Di sisi lain, harga komoditas energi yang tinggi bisa mengerek pendapatan negara dari sektor migas, namun efek negatif terhadap daya beli masyarakat dan biaya produksi industri patut diwaspadai. Pemerintah perlu mengantisipasi gejolak harga BBM dan menjaga stabilitas nilai tukar di tengah ketidakpastian global.
Ke depan, fokus pasar tertuju pada perkembangan geopolitik di Timur Tengah, pidato Ketua The Fed, serta musim laporan keuangan emiten AS yang dimulai pekan ini. Pertanyaan besarnya: akankah konflik ini berlarut-larut hingga mengubah peta kebijakan moneter global, atau hanya sekadar guncangan sementara yang bisa diredam oleh data fundamental yang solid?



