Gempa Buol Magnitudo 5,1: Satu Pasien Meninggal, Ratusan Warga Mengungsi ke Gunung Kali
Baca dalam 60 detik
- Gempa dangkal magnitudo 5,1 mengguncang Buol, Sulawesi Tengah, menyebabkan satu pasien RSUD meninggal dan sejumlah bangunan rusak.
- Warga mengungsi ke Gunung Kali dan kecamatan lain karena khawatir gempa susulan, meski BMKG memastikan tidak ada potensi tsunami.
- Pemerintah daerah mengimbau masyarakat tetap tenang dan waspada, serta hanya mempercayai informasi resmi dari BPBD dan BMKG.

Gempa bumi dangkal berkekuatan magnitudo 5,1 mengguncang Kabupaten Buol, Sulawesi Tengah, Minggu (12/7) malam, menewaskan seorang pasien di RSUD Buol dan memicu kepanikan massal yang mendorong sebagian warga mengungsi ke perbukitan Gunung Kali. Getaran yang berlangsung sekitar pukul 20.46 Wita itu terasa hingga ke Tolitoli, Parigi Moutong, dan sebagian Gorontalo, membuat masyarakat berhamburan keluar rumah.
Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Buol mencatat satu korban jiwa, yakni seorang pasien yang sedang dirawat di RSUD Buol saat gempa terjadi. Kepala Pelaksana BPBD Buol, Moh Kachfi Mardjuni, menyebutkan bahwa bangunan rumah sakit ikut rusak, bersama dengan kantor mal pelayanan publik, kantor inspektorat, sebuah rumah makan, serta sejumlah rumah warga di Kelurahan Kali dan Leok II. "Data sementara, satu pasien meninggal dunia akibat terdampak gempa," ujarnya dalam keterangan resmi.
Tak hanya kerusakan fisik, gempa ini juga menyebarkan ketakutan. Banyak warga memilih mengungsi ke Gunung Kali dan beberapa kecamatan yang dianggap lebih aman, khawatir akan gempa susulan. "Warga sempat berhamburan keluar rumah dan sebagian mengungsi ke daerah yang dianggap lebih aman," kata Kachfi. Namun, hingga malam hari situasi berangsur kondusif dan mayoritas warga telah kembali ke rumah masing-masing.
Wakil Bupati Buol, Moh Nasir Dj Daimaroto, mengimbau masyarakat tetap tenang dan tidak panik. "Kepanikan yang berlebihan justru membahayakan diri sendiri dan orang sekitar," katanya. Ia juga meminta warga selektif menerima informasi dan hanya merujuk pada data resmi BMKG serta BPBD Buol. "Jangan mudah terprovokasi oleh berita hoaks yang tidak jelas sumbernya," tegas Nasir.
Dari sisi seismologi, Direktur Gempabumi dan Tsunami BMKG, Wijayanto, menjelaskan bahwa gempa ini merupakan jenis gempa dangkal akibat aktivitas subduksi. Parameter terbaru menunjukkan magnitudo 5,1 pada kedalaman 21 km dengan episenter di laut. "Hasil pemodelan tsunami menunjukkan gempa ini tidak berpotensi tsunami," ujarnya. Guncangan skala IV MMI dirasakan di Karamat, Biau, Lakea, Tolitoli, dan Buol, sementara skala III MMI mencapai Parigi, Marisa, dan Tilamuta.
Pemerintah Kabupaten Buol bersama BPBD Sulteng terus melakukan asesmen untuk mendata kerusakan dan kebutuhan warga terdampak. Meski situasi telah kondusif, BPBD tetap mengimbau kewaspadaan terhadap potensi gempa susulan. Pertanyaan yang kini mengemuka: apakah infrastruktur publik di Buol, terutama rumah sakit dan gedung pemerintahan, telah memenuhi standar tahan gempa? Mengingat letak geologis Sulawesi yang rawan subduksi, evaluasi menyeluruh menjadi keniscayaan.



