Geopolitik Mulai Diabaikan, Bursa Asia Dibuka Hijau: Investor Fokus ke Data Inflasi AS dan Laba Emiten
Baca dalam 60 detik
- Indeks Nikkei, Kospi, dan Kosdaq kompak menguat pada awal pekan meski risiko penutupan Selat Hormuz masih mengemuka.
- Pasar beralih ke rilis CPI AS Juni dan laporan keuangan kuartal II-2026, dengan ekspektasi pertumbuhan laba S&P 500 di atas 23%.
- Adopsi AI yang meluas di berbagai sektor dinilai masih akan mendorong investasi teknologi hingga 2028, menjadi katalis tambahan.

Bursa Asia-Pasifik memulai pekan dengan catatan positif pada Senin (13/7/2026), mengabaikan sementara ketegangan geopolitik yang masih membayangi. Investor memilih untuk memusatkan perhatian pada data inflasi Amerika Serikat yang akan dirilis pekan ini serta musim laporan keuangan emiten kuartal II-2026 yang dinilai dapat memberikan sinyal baru bagi arah pasar global.
Di Jepang, indeks Nikkei 225 naik 0,28% dan Topix menguat 0,72%. Korea Selatan mencatat kenaikan lebih tajam, dengan Kospi bertambah 0,58% dan Kosdaq yang berisi saham berkapitalisasi kecil melonjak 1,84%. Sementara itu, indeks S&P/ASX 200 Australia bergerak relatif datar. Penguatan ini terjadi meskipun potensi penutupan Selat Hormuzโjalur vital energi duniaโmasih menjadi risiko yang dipantau pelaku pasar.
Ben Emons, pendiri Fed Watch Advisors, menilai bahwa selama belum ada tanda nyata penutupan jalur tersebut dalam beberapa bulan ke depan yang bisa memicu krisis energi global, fokus investor akan lebih tertuju pada data ekonomi makro dan kinerja korporasi. "Perhatian utama saat ini adalah inflasi AS, kebijakan moneter The Fed, dan laporan keuangan perbankan," ujarnya.
Pekan ini menjadi momen krusial bagi Wall Street. Sejumlah bank besar seperti JPMorgan Chase, Goldman Sachs, Morgan Stanley, Bank of America, Citigroup, dan Wells Fargo akan mengumumkan kinerja keuangannya. Selain sektor perbankan, emiten teknologi dan konsumen seperti Netflix, Johnson & Johnson, dan UnitedHealth juga menjadi sorotan. Hasil laporan ini dipercaya dapat memberikan gambaran mengenai ketahanan konsumsi AS dan prospek ekonomi ke depan.
Larry Adam, Chief Investment Officer Raymond James, menyoroti sektor teknologi sebagai pusat perhatian. Menurutnya, kekhawatiran bahwa perusahaan hyperscaler mulai mengurangi belanja modal untuk kecerdasan buatan (AI) tidak berdasar. "Rencana investasi AI diperkirakan tetap dipertahankan bahkan meningkat hingga 2028. Penggunaan AI sudah memberikan manfaat nyata bagi dunia usaha," jelas Adam. Ia menambahkan bahwa adopsi AI kini meluas ke seluruh sektor industri, bukan hanya teknologi.
Di sisi lain, rilis data Indeks Harga Konsumen (CPI) AS untuk Juni pada Selasa waktu setempat akan menjadi indikator penting bagi langkah The Fed selanjutnya. Inflasi yang lebih tinggi dari perkiraan dapat memperkuat ekspektasi pengetatan moneter, sementara data yang lebih rendah berpotensi mendorong reli pasar. Bagi investor Indonesia, pergerakan bursa global ini menjadi sinyal untuk mencermati arus modal asing dan dampaknya terhadap nilai tukar rupiah serta IHSG.
Dengan musim laporan keuangan yang dimulai pekan ini dan data inflasi yang dinanti, pasar seolah menempatkan risiko geopolitik di kursi belakang. Pertanyaannya, berapa lama investor bisa mengabaikan ketegangan di Timur Tengah jika situasi terus memanas?



