Gaza Berdarah Lagi: Enam Tewas Termasuk Bocah, Gencatan Senjata di Ujung Tanduk
Baca dalam 60 detik
- Serangan Israel di Gaza pada Minggu (12/7) menewaskan enam warga Palestina, termasuk seorang anak perempuan berusia sembilan tahun, di tengah negosiasi fase kedua gencatan senjata.
- Lebih dari 1.000 warga Palestina telah tewas sejak gencatan senjata Oktober 2025, sementara empat tentara Israel menjadi korban serangan militan dalam periode yang sama.
- Kunjungan pemimpin Hamas ke Kairo untuk membahas pelucutan senjata dan penarikan tentara Israel belum menunjukkan titik terang, dengan tuduhan pelanggaran gencatan senjata dari kedua belah pihak.

Serangan militer Israel di Jalur Gaza pada Minggu (12/7) kembali memakan korban jiwa, dengan enam orang tewas termasuk seorang bocah perempuan, saat mediasi internasional berupaya menyelamatkan kesepakatan gencatan senjata yang mulai goyah.
Otoritas kesehatan Palestina melaporkan bahwa Tala Abu Matar, sembilan tahun, tewas akibat tembakan Israel yang diarahkan ke perkemahan tenda di sisi timur kamp pengungsi Al-Bureij, Gaza tengah. Militer Israel mengaku tidak mengetahui insiden tersebut. Di tempat terpisah, serangan udara menghantam sebuah pabrik logam di lingkungan Sabra, Gaza Kota, menewaskan empat orang. Saksi mata mengatakan lokasi itu dihantam tiga rudal Israel.
Militer Israel membenarkan serangan tersebut dan menyebutnya sebagai operasi terhadap militan Hamas yang beroperasi di fasilitas produksi senjata. Menurut pihak Israel, tindakan itu merupakan respons atas pelanggaran gencatan senjata oleh Hamas. Sejak Kamis lalu, militer Israel juga mengaku telah menewaskan setidaknya dua pejuang Hamas di Gaza utara yang diduga sedang merencanakan serangan terhadap pasukan Israel.
Pada hari yang sama, serangan Israel lainnya di perkemahan tenda di kawasan Mawasi, Khan Younis, selatan Gaza, menewaskan satu orang dan melukai beberapa lainnya, termasuk anak-anak. Militer Israel belum memberikan komentar atas insiden tersebut.
Gencatan senjata yang disepakati pada Oktober 2025 antara Israel dan Hamas memang berhasil menghentikan pertempuran skala besar, namun tidak mampu menghentikan kekerasan sporadis. Angka korban jiwa terus bertambah, menimbulkan keraguan atas efektivitas perjanjian yang dimediasi Amerika Serikat tersebut. Kunjungan pemimpin Hamas ke Kairo untuk merundingkan fase kedua dari rencana perdamaian Presiden AS Donald Trump belum membuahkan hasil. Diskusi mencakup pelucutan senjata Hamas dan penarikan tentara Israel dari Gaza, namun sumber-sumber dekat perundingan mengakui belum ada terobosan.
Hamas menuding Israel terus melanggar gencatan senjata, yang menjadi hambatan utama bagi implementasi fase kedua rencana Trump. Sementara itu, kondisi kemanusiaan di Gaza semakin memprihatinkan. Hampir seluruh dari 2 juta penduduk Gaza, yang sebagian besar telah mengungsi berkali-kali, kini hidup di jalur pantai sempit dalam tenda-tenda darurat atau bangunan yang hancur, di bawah kendali Hamas.
Bagi Indonesia, eskalasi di Gaza kembali mengingatkan pada pentingnya peran aktif dalam mendorong solusi dua negara dan perlindungan warga sipil. Sebagai negara dengan penduduk Muslim terbesar, Indonesia memiliki kepentingan moral dan diplomatik untuk mendorong penghentian kekerasan serta pengiriman bantuan kemanusiaan yang lebih masif. Namun, tanpa komitmen nyata dari kedua belah pihak, perdamaian yang berkelanjutan masih menjadi mimpi yang sulit diwujudkan.
Pertanyaan mendasar kini menggantung: akankah perundingan di Kairo mampu menyelamatkan gencatan senjata yang rapuh ini, atau justru konflik akan kembali meledak dengan skala yang lebih besar?



