Swiss Bangga Capai Perempat Final, Meski Pelatih Geram dengan Keputusan VAR
Baca dalam 60 detik
- Swiss tersingkir dari Piala Dunia setelah kalah 3-1 dari Argentina di perempat final, namun secara keseluruhan menilai pencapaian mereka sebagai sukses.
- Pelatih Murat Yakin mengkritik keputusan VAR yang mengusir Breel Embolo, merasa timnya berjuang melawan lebih dari sekadar lawan.
- Dengan kontrak Yakin yang masih dua tahun, Swiss berencana memanfaatkan Nations League untuk regenerasi pemain muda.

Kekalahan 3-1 dari Argentina di perempat final Piala Dunia masih menyisakan kekecewaan mendalam bagi pelatih Swiss, Murat Yakin. Namun, di balik rasa pahit itu, Federasi Sepak Bola Swiss (SFV) menilai langkah timnya hingga delapan besar merupakan sebuah pencapaian yang patut dibanggakan.
Dalam laga yang berlangsung di Kansas City, Sabtu (12/7) waktu setempat, Swiss sebenarnya sempat menyamakan kedudukan di babak kedua. Namun, nasib buruk menghampiri ketika striker Breel Embolo mendapat kartu kuning kedua setelah wasit meninjau ulang insiden simulasi melalui VAR. Unggul jumlah pemain, Argentina akhirnya mampu mengamankan kemenangan.
Yakin, yang masih emosional sehari setelah pertandingan, melontarkan kritik tajam terhadap kepemimpinan wasit dan penggunaan teknologi. “Kami tidak hanya bermain melawan Argentina yang hebat dan juara dunia, tetapi juga melawan 70.000 suporter Argentina, wasit, dan VAR. Itu terlalu berat,” ujarnya dalam konferensi pers, Minggu (13/7). Meski kecewa, ia menegaskan bahwa timnya telah meletakkan fondasi yang kuat untuk turnamen mendatang.
Bagi publik sepak bola Indonesia, perjalanan Swiss ini bisa menjadi pelajaran berharga. Di tengah dominasi tim-tim besar, konsistensi dan pengembangan pemain muda menjadi kunci untuk bersaing di level tertinggi. Swiss, yang tidak memiliki tradisi sekuat Brasil atau Jerman, mampu secara reguler lolos ke fase gugur Piala Dunia—sebuah capaian yang patut dicontoh oleh negara berkembang sepak bola seperti Indonesia.
Yakin, yang telah menukangi timnas Swiss selama lima tahun dan mengoleksi 49 caps sebagai pemain, menegaskan komitmennya untuk tetap melanjutkan pekerjaannya. “Saya masih sangat menikmati menjadi pelatih dan bangga menjadi kepala pelatih tim nasional Swiss. Tidak ada sedikit pun niat untuk mengambil jalan lain,” katanya. Dengan kontrak yang masih berlaku dua tahun ke depan, ia optimistis dapat membawa timnya lebih jauh.
Ke depan, Swiss akan berkompetisi di Nations League kasta kedua setelah terdegradasi pada 2024. Mereka dijadwalkan menghadapi Makedonia Utara, Skotlandia, dan Slovenia dalam beberapa bulan mendatang. Yakin melihat ajang ini sebagai peluang emas untuk memberikan kesempatan kepada pemain-pemain muda. “Kami ingin tetap ambisius di kampanye mendatang. Nations League memberi kami kesempatan untuk memberikan kesempatan kepada pemain muda,” ujarnya.
Direktur tim nasional Swiss, Pierluigi Tami, juga menyuarakan kebanggaannya. “Sulit untuk mengevaluasi segera setelah pertandingan. Kami sangat dekat dengan hasil yang luar biasa. Kami harus bangga dengan cara tim kami mewakili negara di turnamen besar ini,” katanya. Dengan fondasi yang sudah dibangun, Swiss kini menatap masa depan dengan optimisme yang hati-hati—sebuah sikap yang mungkin perlu ditiru oleh federasi sepak bola di Indonesia.



