Belajar dari Tom Cruise, Simon Pegg Temukan Cara Hadapi Popularitas
Baca dalam 60 detik
- Simon Pegg mengaku persahabatannya dengan Tom Cruise membantunya mengelola tekanan menjadi selebritas.
- Aktor 56 tahun itu juga mengungkapkan bahwa ketenaran bukan penyebab kecanduan alkoholnya, melainkan memperparah kondisi yang sudah ada.
- Pegg menjalani perawatan di rumah sakit jiwa The Priory pada 2010 dan baru berani membicarakannya delapan tahun kemudian.

Simon Pegg, aktor yang dikenal lewat film Shaun of the Dead dan Hot Fuzz, mengaku bahwa persahabatannya dengan Tom Cruise menjadi kunci dalam menghadapi kerasnya sorotan publik. Dalam wawancara terbaru dengan The Sunday Times, Pegg mengungkapkan bagaimana ia belajar dari rekan mainnya di Mission: Impossible itu untuk tetap tenang dan rendah hati saat menerima perhatian.
Pegg, yang telah beradu peran dengan Cruise dalam enam film Mission: Impossible, mengagumi cara bintang Top Gun tersebut bersikap di tengah popularitas. “Dia tidak bisa pergi ke mana pun! Tapi saat dia melakukannya, dia sangat sadar siapa dirinya dan apa artinya,” ujar Pegg. Ia menambahkan bahwa siapa pun yang frustrasi atau menolak penggemar yang datang untuk menyapa adalah “brengsek”.
Lebih jauh, Pegg mengaku berhasil menembus “mitologi aneh” yang menyelimuti Cruise. “Saya suka bisa menjadi normal dengannya,” katanya. Sikap Cruise yang tetap santai meski menjadi ikon global menjadi pelajaran berharga bagi Pegg untuk tidak terbebani oleh status selebritas.
Namun, di balik kesuksesannya, Pegg juga berbagi perjuangan pribadi melawan depresi dan alkohol. Ia mengaku bahwa ketenaran bukanlah penyebab kecanduannya, melainkan hanya memperburuk kondisi yang sudah ada. “Itu sudah ada dalam diri saya sebelum terkenal, hanya saja terjadi di depan publik,” jelas aktor yang telah 16 tahun hidup tanpa alkohol ini.
Keputusannya untuk berhenti minum membawa perubahan besar. Pegg kini rutin berlari 10 kilometer setiap hari dan melakukan latihan kekuatan. “Setelah berhenti minum, saya memutuskan untuk menjaga bentuk tubuh. Saya suka olahraga karena memicu endorfin dan memberi rutinitas,” katanya. Ia juga mengaku ingin hidup panjang karena “saya suka hidup”.
Pengalaman Pegg di The Priory pada 2010 ia nilai sebagai penyelamat nyawa. Meski awalnya ragu untuk membicarakannya, ia akhirnya merasa perlu berbagi. “Bukan karena saya menganggap apa yang saya katakan sangat penting, tapi jika ada orang yang merasa terhubung? Bagus. Karena melewati rasa sakit bisa sangat sepi,” ujarnya. Ia berharap kisahnya bisa membantu orang lain yang merasa tidak baik-baik saja, seperti dirinya dulu.
Di Indonesia, isu kesehatan mental dan kecanduan alkohol masih sering dianggap tabu. Kisah Simon Pegg menjadi pengingat bahwa tekanan popularitas bisa dialami siapa pun, termasuk figur publik. Dengan keterbukaannya, Pegg menunjukkan bahwa meminta bantuan dan menjalani perawatan adalah langkah berani yang patut ditiru. Pertanyaannya, akankah lebih banyak selebritas Tanah Air berani mengikuti jejaknya?



