Mantan PM Spanyol Dikecam Usai Sebut Timnas Prancis 'Tak Punya Pemain Prancis'
Baca dalam 60 detik
- Mantan Perdana Menteri Spanyol Mariano Rajoy menuai kecaman setelah menulis opini yang menyebut timnas Prancis tidak memiliki pemain asli Prancis, menjelang semifinal Piala Dunia melawan Spanyol.
- Perdana Menteri Spanyol Pedro Sanchez mengecam pernyataan tersebut sebagai xenofobia, sementara menteri Prancis menyebutnya sebagai bukti kebencian sistematis terhadap Prancis.
- Insiden ini memicu perdebatan tentang identitas nasional dan multikulturalisme di Eropa, relevan dengan diskusi serupa di Indonesia tentang keberagaman dalam tim nasional.

Mantan Perdana Menteri Spanyol Mariano Rajoy menjadi sasaran kritik tajam dari dalam negeri dan Prancis setelah ia menulis opini yang menyebut tim nasional sepak bola Prancis "tidak memiliki pemain Prancis". Pernyataan yang dimuat di portal berita Spanyol El Debate pada Minggu (12/7) itu muncul hanya dua hari sebelum Spanyol dan Prancis bertemu di semifinal Piala Dunia yang dinanti.
Perdana Menteri Spanyol Pedro Sanchez langsung bereaksi. Melalui akun media sosial X, ia mengecam pernyataan Rajoy sebagai "xenofobia". "Ada yang masih mengukur kepemilikan berdasarkan nama belakang, tempat lahir, atau warna kulit. Yang lain mengukurnya dari akar kita di suatu negara dan kemauan kita untuk berkontribusi," tulis Sanchez. Ia menegaskan bahwa Spanyol milik mereka yang mencintai dan bekerja untuknya, bukan mereka yang mempermalukan dengan pernyataan rasis.
Menteri Transportasi Spanyol Oscar Puente bahkan menyebut Rajoy sebagai "idiot pasca-Franco". Di Prancis, reaksi tak kalah keras. Menteri Dalam Negeri Laurent Nunez menyebut pernyataan itu "sama sekali tidak bisa diterima". Pemimpin Partai Komunis Fabien Roussel membandingkannya dengan komentar kontroversial Senator Paraguay Celeste Amarilla yang menyebut Kylian Mbappe sebagai "orang Kamerun yang terjajah dan pura-pura jadi orang Prancis".
Menteri Anti-Diskriminasi Prancis Aurore Berge mengecam "ledakan rasis yang berulang" dan mendesak agar olahraga kembali menjadi ajang penilaian bakat, bukan kriteria lain. Naima Moutchou, menteri untuk wilayah seberang laut, menyebut komentar tersebut sebagai bukti "kebencian sistematis dan meluas terhadap Prancis dan apa yang menjadi bangsa ini". "Setiap kali Les Bleus menang, obsesi dan hinaan rasis yang sama muncul kembali," ujarnya.
Kedutaan Besar Prancis di Madrid juga angkat bicara. Dalam unggahan media sosial, mereka menegaskan bahwa semua pemain timnas Prancis adalah warga negara Prancis. Dari 26 pemain, 23 lahir di Prancis, dan tiga lainnya yang lahir di luar negeri juga sah sebagai warga Prancis. Presiden Federasi Sepak Bola Prancis Philippe Diallo menyebut pernyataan Rajoy mengandung "nuansa rasisme yang tak tertahankan".
Bagi Indonesia, insiden ini relevan dengan diskusi tentang identitas nasional dalam tim olahraga. Timnas Indonesia sendiri dihuni pemain keturunan dan naturalisasi, seperti halnya Prancis. Perdebatan tentang siapa yang "layak" membela negara kerap muncul di media sosial. Kasus Rajoy mengingatkan bahwa pertanyaan semacam itu bisa memicu polarisasi, terutama ketika prestasi olahraga dijadikan ajang politik identitas.
Ke depan, pertanyaan yang mengemuka adalah apakah pernyataan kontroversial seperti ini akan mempengaruhi atmosfer pertandingan semifinal nanti. Atau justru sebaliknya, rivalitas di lapangan akan meredakan ketegangan diplomatik yang dipicu oleh komentar di luar lapangan.



