Mantan Emir Qatar Sheikh Hamad bin Khalifa Al-Thani Tutup Usia, Arsitek Modernisasi Negeri Minyak
Baca dalam 60 detik
- Sheikh Hamad bin Khalifa Al-Thani, mantan emir Qatar yang memodernisasi negara itu, meninggal dunia pada usia 74 tahun.
- Di bawah kepemimpinannya, Qatar bertransformasi menjadi eksportir LNG global, mendirikan Al Jazeera, dan menjadi tuan rumah Piala Dunia 2022.
- Warisan kontroversialnya termasuk dukungan terhadap gerakan Arab Spring yang memicu ketegangan dengan tetangga Teluk.

Sheikh Hamad bin Khalifa Al-Thani, mantan emir Qatar yang dikenal sebagai arsitek transformasi besar negara kecil kaya gas itu, meninggal dunia pada Minggu (12/7) pagi waktu setempat dalam usia 74 tahun. Pengumuman resmi dari Amiri Diwan, badan pemerintahan tertinggi Qatar, tidak menyebutkan penyebab kematiannya.
Sheikh Hamad merebut kekuasaan dari ayahnya dalam kudeta tak berdarah pada 1995, dan 18 tahun kemudian secara mengejutkan menyerahkan tampuk kepemimpinan kepada putranya, Sheikh Tamim bin Hamad Al-Thani, yang kini menjabat emir. Langkah itu dipandang sebagai upaya memastikan suksesi yang mulus di tengah sejarah panjang intrik istana keluarga Al-Thani.
Di bawah kepemimpinannya, Qatar mengalami lompatan ekonomi yang dramatis. Sheikh Hamad menjadi motor pengembangan infrastruktur gas alam cair (LNG) yang memungkinkan negara itu mengekspor cadangan gasnya yang sangat besar ke pasar global. Hasilnya, Qatar menjelma menjadi salah satu eksportir LNG terbesar di dunia dan mengumpulkan kekayaan luar biasa yang menjadi fondasi pembangunan modern.
Tak hanya di sektor energi, Sheikh Hamad juga mendirikan jaringan media Al Jazeera pada 1996, yang dengan cepat menjadi suara berpengaruh di politik Arab dan memperluas cengkeraman Qatar di kawasan. Ia pula yang mengawasi keberhasilan tawaran Qatar menjadi tuan rumah Piala Dunia 2022, sebuah pencapaian yang menempatkan negara itu di panggung global dan memicu pembangunan infrastruktur besar-besaran di Doha.
Dalam kebijakan luar negeri, Sheikh Hamad menempatkan Qatar sebagai mediator konflik di Timur Tengah, mulai dari Lebanon, Yaman, hingga Darfur. Ia juga menjalin hubungan dengan Amerika Serikat—bahkan menjadi tuan rumah markas Komando Pusat AS—sambil tetap memelihara hubungan dengan Iran dan kelompok-kelompok yang beraliansi dengannya. Keseimbangan ini menjadi landasan bagi peran Qatar saat ini dalam negosiasi AS-Iran dan upaya menghentikan perang di Gaza.
Namun, peran kontroversial Qatar di bawah Sheikh Hamad terutama terlihat saat gelombang Arab Spring 2011. Doha menggunakan sumber daya dan pengaruhnya untuk mendukung gerakan revolusioner dan kelompok Islamis di kawasan. Meskipun pemerintah Qatar mengklaim kebijakan itu sebagai dukungan terhadap tuntutan rakyat akan perubahan politik, para kritikus menuduh Sheikh Hamad secara selektif mendukung faksi yang sejalan dengan kepentingannya, terutama kelompok yang terkait dengan Ikhwanul Muslimin. Sikap ini membuatnya berbenturan dengan monarki tetangga seperti Arab Saudi dan Uni Emirat Arab, yang menganggap gerakan tersebut sebagai ancaman terhadap stabilitas regional dan kekuasaan monarki.
Di dalam negeri, Sheikh Hamad didampingi oleh istrinya, Sheikha Moza bint Nasser, yang memiliki profil publik langka bagi istri penguasa Teluk. Sheikha Moza mendorong agenda pendidikan, riset, dan pembangunan sosial yang berjalan seiring reformasi ekonomi dan politik suaminya. Kehadirannya turut membentuk citra Qatar yang lebih terbuka.
Sheikh Hamad dikenal sebagai pemimpin yang relatif dekat dengan rakyat. Saat berkuasa di usia 44 tahun, ia menjadi pemimpin termuda di kawasan dan kerap terlihat duduk di kafe favoritnya di souq Doha, berbincang dengan pengunjung. Warisannya kini diuji oleh generasi baru yang mewarisi negara yang telah berubah drastis—baik dari segi ekonomi, politik, maupun posisi globalnya. Pertanyaannya, mampukah Qatar mempertahankan pengaruh dan stabilitas di tengah dinamika kawasan yang terus berubah?



