Lindsey Graham Meninggal Dunia, Pukulan bagi Agenda Trump di Senat AS
Baca dalam 60 detik
- Senator AS Lindsey Graham tutup usia pada 71 tahun akibat penyakit mendadak, meninggalkan kursi penting di Senat yang dikuasai Partai Republik.
- Kematian Graham mengurangi satu suara loyal bagi Presiden Trump di tengah upaya mendorong kebijakan di Senat yang terbelah tipis.
- Kursi Graham akan segera diisi melalui penunjukan sementara oleh Gubernur South Carolina, diikuti pemilihan pendahuluan untuk November.

Senator Amerika Serikat Lindsey Graham, tokoh Partai Republik yang semula menjadi kritikus keras Donald Trump sebelum berubah menjadi sekutu setianya di Capitol Hill, meninggal dunia pada Sabtu (11/7) malam waktu setempat dalam usia 71 tahun. Kantor Graham mengonfirmasi bahwa penyebab kematian adalah "penyakit singkat dan mendadak", sementara media AS melaporkan adanya panggilan darurat untuk serangan jantung di kediamannya di Capitol Hill.
Kepergian Graham terjadi di saat yang krusial bagi Presiden Trump, yang tengah berupaya menggenjot agenda legislatifnya di Senat yang terbelah tipis antara Republik dan Demokrat. Dengan hanya 51 kursi Republik melawan 49 Demokrat, setiap suara sangat berarti. "Dia orang yang sulit untuk kehilangan," ujar Trump dalam wawancara dengan NBC. "Dia hebat. Dia unik dalam segala hal." Namun, Trump sendiri mengaku baru mengetahui kabar duka itu pada Minggu pagi, setelah sebelumnya berbincang dengan Graham yang mengeluh kelelahan pasca perjalanan dari Ukraina.
Kematian Graham tidak akan mengubah peta persaingan perebutan kendali Senat pada November mendatang, karena South Carolina merupakan negara bagian yang secara konsisten memilih kandidat Republik. Gubernur South Carolina, Henry McMaster, dapat segera menunjuk pengganti sementara, sementara Partai Republik setempat harus menggelar pemilihan pendahuluan dipercepat untuk menentukan calon dalam pemilu paruh waktu November. Pengganti sementara belum tentu menjadi calon yang sama.
Graham dikenal sebagai elang pertahanan yang vokal mendukung Israel dan Ukraina, serta menjadi lawan keras Iran. Dalam kunjungan terakhirnya ke Kyiv pada Jumat (10/7), ia bertemu Presiden Volodymyr Zelenskyy untuk membahas kebutuhan pertahanan udara Ukraina dan rancangan undang-undang sanksi terhadap Rusia. Menariknya, Graham menyebut China dapat memainkan peran menentukan dalam menekan Rusia menuju perundingan damai. "Jalan untuk mengakhiri perang ini, jalan menuju perdamaian, melewati Beijing lebih dari Washington, Kyiv, atau Moskow," katanya kepada wartawan di Lapangan Mykhailivska, Kyiv.
Pernyataan Graham tentang China ini memiliki resonansi khusus bagi Indonesia, yang selama ini menjalin hubungan diplomatik dan ekonomi yang erat dengan Beijing. Posisi Indonesia sebagai negara non-blok dan anggota ASEAN sering kali berada di tengah tekanan antara AS dan China. Jika China benar-benar menggunakan pengaruhnya untuk mendorong perdamaian Ukraina, hal itu dapat meredakan ketegangan global dan berdampak positif pada stabilitas kawasan Indo-Pasifik, termasuk bagi Indonesia. Namun, jika China memilih berseberangan, Indonesia bisa terjebak dalam pusaran rivalitas dua kekuatan besar.
Karier Graham diwarnai transformasi politik yang dramatis. Pada 2015-2016, ia termasuk salah satu kandidat presiden dari Partai Republik yang kalah dari Trump, dan dengan keras mengkritik Trump sebagai "pemecah belah ras, xenofobia, dan bigot agama". Namun, setelah Trump menjadi presiden, Graham berubah menjadi pendukung setia, meskipun tetap berbeda pendapat soal pengampunan massa terhadap pendukung Trump yang menyerbu Capitol pada 6 Januari 2021. "Mereka tidak selalu setuju, tetapi mereka selalu sepakat untuk tidak setuju tanpa menjadi tidak menyenangkan," kata Senator Tim Scott, kolega Graham dari South Carolina.
Reaksi atas kepergian Graham datang dari berbagai pemimpin dunia. Presiden Ukraina Zelenskyy menyebutnya sebagai "pembela sejati kebebasan", sementara Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu menyatakan, "Israel kehilangan salah satu sahabat terbesarnya. Amerika kehilangan patriot besar. Saya kehilangan sahabat tercinta." Netanyahu diperkirakan akan menghadiri pemakaman Graham.
Lahir di Central, South Carolina, Graham adalah mantan pengacara Angkatan Udara dan anggota Garda Nasional Udara South Carolina. Ia pertama kali terpilih ke Dewan Perwakilan Rakyat pada 1994, lalu ke Senat pada 2002. Graham tidak menikah dan tinggal di Seneca, South Carolina. Kini, pertanyaan besarnya adalah: mampukah Partai Republik mempertahankan kursi ini tanpa sosok sekaliber Graham, dan bagaimana dampaknya terhadap keseimbangan kekuasaan di Senat AS?



