Kane Akui Inggris Belum Tampil Maksimal: 'Kami Punya Level Lain'
Baca dalam 60 detik
- Harry Kane menyebut timnas Inggris masih menyimpan potensi lebih setelah melaju ke semifinal Piala Dunia 2026.
- Pelatih Thomas Tuchel mengkritik performa anak asuhnya saat menang dramatis atas Norwegia di perempat final.
- Jude Bellingham membela rekan setimnya dan menilai kritik Tuchel tidak sepenuhnya adil mengingat beratnya pertandingan.

Kapten timnas Inggris, Harry Kane, mengakui bahwa skuad Three Lions belum menunjukkan performa terbaik mereka meski telah memastikan tempat di semifinal Piala Dunia 2026. Menurut Kane, tim asuhan Thomas Tuchel masih memiliki ruang untuk berkembang dan belum mencapai level permainan yang diharapkan.
Pernyataan itu muncul setelah Inggris menyingkirkan Norwegia dengan skor 2-1 melalui babak perpanjangan waktu pada laga perempat final, Sabtu lalu. Kemenangan yang diraih susah payah itu memicu kritik tajam dari Tuchel, yang menilai timnya "beruntung", "ceroboh", dan melakukan "banyak kesalahan teknis". Pelatih asal Jerman itu juga menyebut permainan Inggris "tidak cukup cepat" dan "tidak cukup repetitif".
Kane, yang telah mencetak enam gol di turnamen ini dan menjadi pencetak gol terbanyak bersama Jude Bellingham, memahami kekesalan Tuchel. Menurutnya, sang pelatih hanya ingin melihat timnya mampu menerapkan apa yang sudah mereka latih selama ini. "Dia melihat kami berlatih, melihat kedekatan kami, dan apa yang bisa kami lakukan dengan pemain yang kami miliki. Dia hanya ingin melihat versi terbaik dari kami," ujar striker Bayern Munich itu.
Namun, Bellingham memiliki pandangan berbeda. Gelandang Real Madrid itu membela rekan-rekannya dan menilai kritik Tuchel kurang mempertimbangkan kualitas lawan. "Mungkin dia tidak tahu bagaimana rasanya bermain dalam kondisi seperti itu melawan Erling Haaland, Martin Odegaard, Antonio Nusa, dan Alexander Sorloth. Mereka bukan tim yang mudah dilawan," kata Bellingham usai pertandingan. Ia menegaskan bahwa semua pemain telah bekerja keras dan layak diapresiasi.
Ketegangan antara kritik pelatih dan pembelaan pemain ini menjadi dinamika menarik jelang laga semifinal melawan Argentina. Inggris, yang terakhir kali menjuarai Piala Dunia pada 1966, kini berhadapan dengan lawan berat. Argentina sendiri memiliki sejarah panjang persaingan dengan Inggris, termasuk insiden "Hand of God" dan kartu merah David Beckham di masa lalu.
Bagi Indonesia, persaingan Inggris vs Argentina selalu menyita perhatian. Banyak penggemar sepak bola tanah air yang mengikuti kedua tim, dan laga ini diprediksi akan menjadi tontonan menarik. Selain itu, keberhasilan Inggris menembus semifinal menunjukkan konsistensi mereka di turnamen besar, setelah menjadi runner-up Piala Eropa 2021 dan 2024.
Kane menegaskan bahwa timnya tidak boleh terlalu larut dalam kritik. "Kami berada di semifinal Piala Dunia, dan itu belum pernah terjadi sepanjang sejarah tim ini. Kami harus menikmatinya," ujarnya. Namun, ia juga sadar bahwa tantangan terbesar masih menanti. "Kami akan menghadapi salah satu tim terbaik di dunia. Yang paling menggembirakan adalah kami masih bisa meningkat."
Dengan hanya delapan hari tersisa di turnamen, Inggris harus segera menemukan performa terbaiknya. Apakah kritik Tuchel akan memicu kebangkitan, atau justru menimbulkan perpecahan? Semua akan terjawab di lapangan.



