Indonesia Sapu Bersih Gelar Panjat Tebing Kecepatan di Chamonix, Desak dan Veddriq Tampil Gemilang
Baca dalam 60 detik
- Desak Made Rita Kusuma Dewi dan Veddriq Leonardo sukses merebut emas nomor speed climbing di World Climbing Series Chamonix, menegaskan dominasi Indonesia di cabang ini.
- Kemenangan Veddriq menjadi yang pertama sejak Olimpiade Paris 2024, setelah ia melewati masa pemulihan cedera dan mengalahkan lawan-lawan tangguh termasuk pemegang rekor dunia.
- Prestasi ini memperkuat posisi Indonesia sebagai kekuatan utama panjat tebing dunia, sekaligus menjadi modal berharga menjelang Olimpiade Los Angeles 2028.

Indonesia kembali menunjukkan taringnya di kancah panjat tebing internasional. Dua atlet andalan, Desak Made Rita Kusuma Dewi dan Veddriq Leonardo, sukses menyapu bersih gelar juara nomor speed climbing pada seri World Climbing Series di Chamonix, Prancis, Sabtu (12/7/2026). Kemenangan ini tidak hanya mengukuhkan dominasi Indonesia, tetapi juga menjadi momentum kebangkitan Veddriq setelah cedera panjang pasca-Olimpiade.
Desak, yang pekan lalu menjuarai seri Krakow, kembali menunjukkan konsistensinya. Di final, ia mengalahkan atlet Italia Giulia Randi dengan catatan waktu 6,22 detik, unggul 0,29 detik dari lawannya. Sementara itu, atlet tuan rumah Capucine Viglione merebut perunggu setelah mengalahkan Isis Rothfork dari Amerika Serikat. Kemenangan ini menjadi gelar kedua beruntun bagi Desak di ajang World Climbing Series, sekaligus menegaskan posisinya sebagai salah satu pendaki tercepat di dunia.
Persaingan di nomor putri cukup ketat. Pemegang rekor dunia Emma Hunt tersingkir di perempat final oleh Randi, yang kemudian melaju ke final pertamanya. Sementara atlet China gugur di babak awal. Desak mengaku sangat bahagia dengan penampilannya. โSaya sangat senang. Malam ini saya tampil maksimal dan menikmati pertandingan. Emas ini untuk negara dan tim saya,โ ujarnya.
Di nomor putra, Veddriq Leonardo tampil impresif. Peraih emas Olimpiade Paris 2024 ini harus melewati undian berat. Ia menaklukkan Samuel Watson (AS) dan pemegang rekor dunia Zhao Yicheng (China) sebelum berhadapan dengan rekan senegaranya, Antasyafi Robby Al Hilmi, di final. Veddriq mencatat waktu 4,89 detik, cukup untuk mengamankan emas pertamanya sejak Olimpiade. โSaya merasa luar biasa. Ini emas pertama saya setelah Olimpiade, butuh waktu lama untuk meraihnya. Terima kasih kepada semua yang mendukung,โ kata Veddriq.
Kemenangan ini menjadi sinyal kuat bahwa Indonesia serius mempertahankan supremasi di cabang panjat tebing kecepatan. Dengan dua atlet yang mampu bersaing di level tertinggi, Indonesia dipandang sebagai ancaman utama bagi negara-negara seperti China, Italia, dan Amerika Serikat. Keberhasilan ini juga menjadi modal berharga menjelang Olimpiade Los Angeles 2028, di mana panjat tebing kembali dipertandingkan.
Bagi publik Indonesia, prestasi ini membuktikan bahwa investasi pada pembinaan atlet panjat tebing membuahkan hasil. Federasi Panjat Tebing Indonesia (FPTI) diharapkan terus mempertahankan program latihan yang telah melahirkan atlet-atlet kelas dunia. Pertanyaannya, mampukah Indonesia mempertahankan dominasi ini di seri-seri selanjutnya dan pada ajang Olimpiade mendatang?



