Jepang Perluas Jaringan Hospice Anak: Layanan Konsultasi Baru untuk Percepat Pendirian Fasilitas
Baca dalam 60 detik
- Tsurumi Children's Hospice di Osaka meluncurkan layanan konsultasi online pada April 2026 untuk membantu pendirian hospice anak di seluruh Jepang.
- Hospice anak berbeda dari hospice dewasa karena lebih fokus pada pengalaman hidup dan dukungan keluarga, bukan sekadar perawatan akhir hayat.
- Dengan perkiraan 20.000 anak membutuhkan layanan ini, Jepang berupaya mengatasi kelangkaan fasilitas melalui berbagi pengetahuan dan penggalangan dana.

Di tengah keterbatasan fasilitas bagi anak-anak dengan penyakit kronis atau disabilitas berat, Jepang mulai bergerak memperluas akses ke hospice anak—sebuah model perawatan yang menekankan kualitas hidup, bukan sekadar perawatan paliatif. Tsurumi Children's Hospice di Osaka, salah satu pelopor di negeri Sakura, baru saja meluncurkan layanan konsultasi pada April 2026 untuk mempercepat pendirian fasilitas serupa di seluruh negeri.
Berbeda dengan hospice dewasa yang identik dengan perawatan akhir hayat, hospice anak dirancang sebagai ruang aman bagi anak-anak untuk bermain, bersosialisasi, dan menginap bersama teman-teman. Fasilitas ini juga menjadi tempat rehat bagi orang tua yang kerap kelelahan merawat anak dengan kebutuhan khusus. Aya Mizutani, pengelola inisiatif konsultasi di Tsurumi, menegaskan bahwa visi mereka adalah menciptakan masyarakat di mana hospice anak menjadi bagian akrab dari kehidupan sehari-hari.
Menurut data Japan Children's Hospice Association, diperkirakan sekitar 20.000 anak di Jepang membutuhkan layanan hospice, namun jumlah fasilitas yang ada masih sangat terbatas. Tsurumi Children's Hospice, yang beroperasi sejak 2016, hanya melayani 252 keluarga pada tahun fiskal 2024 dengan biaya operasional tahunan sekitar 130 juta yen yang sebagian besar berasal dari donasi. Fasilitas ini memiliki 13 staf, termasuk perawat dan pekerja pengasuh anak.
Layanan konsultasi yang diluncurkan Tsurumi bersifat daring dan ditujukan bagi calon pendiri hospice di daerah lain. Mizutani menggarisbawahi bahwa penggalangan dana sering dianggap sebagai hambatan terbesar, namun sebenarnya ada tiga pilar utama: pendanaan, perawatan, dan penyebaran informasi. Tanpa dukungan masyarakat lokal, hospice sulit bertahan. “Kami ingin warga bangga memiliki fasilitas ini di lingkungan mereka,” ujarnya.
Pengalaman Tsurumi yang dibangun melalui trial and error selama bertahun-tahun kini dibagikan secara terbuka agar pendirian hospice baru bisa lebih cepat. “Tidak perlu orang lain mengalami kesulitan yang sama. Saya berharap mereka yang datang setelah kami bisa menyelesaikan dalam satu tahun apa yang kami butuhkan tiga tahun,” kata Mizutani.
Bagi Indonesia, model hospice anak ini relevan mengingat masih minimnya fasilitas serupa di Tanah Air. Anak-anak dengan penyakit langka atau disabilitas berat kerap menghadapi stigma dan keterbatasan akses bermain. Meski belum ada data pasti, kebutuhan akan ruang aman dan dukungan psikososial bagi keluarga pasien anak juga mendesak. Inisiatif Jepang bisa menjadi referensi bagi pengembangan layanan serupa di Indonesia, terutama dalam hal kemitraan publik-swasta dan penggalangan dana berbasis komunitas.
Ke depan, tantangan terbesar bukan hanya membangun lebih banyak hospice, tetapi juga mengubah persepsi publik. Staf Tsurumi mengakui bahwa kata “hospice” masih dihindari banyak orang karena dianggap berkaitan dengan kematian. Padahal, bagi anak-anak yang mengalaminya, hospice adalah tempat di mana mereka bisa tertawa dan bermain, meninggalkan kenangan berharga bagi orang tua. Pertanyaannya, mampukah Indonesia mengadopsi pendekatan serupa untuk memberikan kehidupan yang lebih bermakna bagi anak-anak dengan keterbatasan?



