Prabowo Kecam Pemimpin Hasut Aksi Bakar-Bakar: Itu Pengkhianat Bangsa
Baca dalam 60 detik
- Presiden Prabowo Subianto menyebut pemimpin yang menggerakkan massa untuk aksi bakar-bakar sebagai pengkhianat negara.
- Dalam pidato Hari Koperasi, Prabowo mengaku empat kali kalah pilpres tanpa pernah memerintahkan aksi anarkis.
- Pernyataan ini menegaskan komitmen pemerintah terhadap demokrasi beradab dan penegakan hukum pasca-kontestasi.

Presiden Prabowo Subianto melontarkan pernyataan keras di hadapan ribuan peserta Puncak Peringatan Hari Koperasi ke-79, Minggu (12/7). Ia menyebut setiap pemimpin yang menghasut masyarakat untuk melakukan aksi bakar-bakar sebagai pengkhianat bangsa dan akan menerima karma atas perbuatannya. Pidato yang disampaikan di tengah suasana akrab itu sekaligus menjadi pengingat akan pentingnya kedewasaan politik di Indonesia.
Prabowo menekankan bahwa dalam setiap kontestasi politik, pasti ada pihak yang menang dan kalah. Ia mempertanyakan logika pihak yang kalah lalu melakukan aksi perusakan. "Jangan kalau kalah mau bakar-bakar, itu bangsa apa itu?" ujarnya. Menurut Presiden, persaingan politik adalah hal wajar, namun harus dijalani dengan sportivitas dan penghormatan terhadap hasil akhir.
Pengalaman pribadi Prabowo menjadi contoh nyata. Ia mengaku telah lima kali maju dalam pemilihan umum dan empat kali mengalami kekalahan. Namun, ia tidak pernah sekalipun memerintahkan pendukungnya untuk melakukan aksi anarkis. "Enggak pernah saya suruh anak buah saya bakar-bakar. Demo aja enggak. Saya datang pelantikan rival saya, saya hormat, saya kasih selamat," katanya.
Pernyataan Presiden ini muncul di tengah dinamika politik nasional yang kerap diwarnai ketegangan pasca-pemilu. Dengan nada tegas, Prabowo mengingatkan bahwa hukum karma akan berlaku bagi mereka yang menghasut kekerasan. "Saya percaya, hukum karma akan kena kepada mereka semua itu," ujarnya. Pesan ini sekaligus menjadi peringatan bagi elite politik untuk tidak mengorbankan persatuan bangsa demi ambisi sesaat.
Dalam konteks Indonesia, di mana sentimen identitas dan polarisasi masih rentan, pernyataan Prabowo dianggap sebagai langkah untuk meredam potensi konflik. Ia mengibaratkan persaingan politik seperti pertandingan sepak bola: ada yang menang dan kalah, namun wasit tidak boleh menjadi sasaran amuk. "Persaingan itu biasa," katanya, menekankan bahwa kekalahan harus diterima dengan lapang dada.
Pidato ini juga menegaskan komitmen pemerintah untuk menjaga stabilitas keamanan dan ketertiban. Dengan menyebut aksi bakar-bakar sebagai tindakan pengkhianat, Prabowo memberikan sinyal bahwa negara tidak akan mentoleransi segala bentuk anarkisme yang mengatasnamakan kekecewaan politik. Pertanyaannya, akankah pernyataan ini cukup untuk meredam hasutan-hasutan serupa di masa depan?



