TCS Siapkan Ribuan Insinyur AI, Buru Akuisisi untuk Perkuat Posisi
Baca dalam 60 detik
- TCS akan membentuk tim hingga 8.900 insinyur khusus AI yang ditempatkan langsung di klien, sebagai respons terhadap kekhawatiran disruptsi AI di industri outsourcing.
- Perusahaan juga tengah menjajaki akuisisi di bidang AI, keamanan data, dan siber, setelah bertahun-tahun mengandalkan pertumbuhan organik.
- Langkah ini menempatkan TCS bersaing dengan raksasa teknologi global seperti OpenAI dan Microsoft dalam merebut pasar adopsi AI perusahaan.

Tata Consultancy Services (TCS), perusahaan jasa teknologi informasi terbesar di India, berencana membangun pasukan khusus berisi hingga 8.900 insinyur yang akan ditugaskan langsung ke klien untuk mempercepat adopsi kecerdasan buatan (AI). Langkah ini sekaligus menjadi sinyal bahwa TCS optimistis AI akan membuka peluang bisnis baru, bukan menggerus model outsourcing tradisional yang selama ini menjadi tulang punggung industri.
Kekhawatiran investor bahwa AI bisa mengganggu industri jasa TI India yang bernilai 315 miliar dolar ASโdengan mengurangi permintaan tim rekayasa, mempersingkat durasi proyek, dan menekan hargaโdibantah oleh CEO TCS, K Krithivasan. Menurutnya, perusahaan justru membutuhkan mitra seperti TCS untuk mengintegrasikan dan menerapkan sistem AI secara efektif. "Yang diperlukan adalah pengetahuan mendalam tentang lingkungan pelanggan agar AI benar-benar bekerja. Di situlah letak diferensiasi kami," ujar Krithivasan dalam wawancara dengan Reuters.
Insinyur yang disebut forward-deployed engineers (FDE) ini akan bekerja bersama klien untuk menyesuaikan alat AI dengan kebutuhan spesifik bisnis. Peran tersebut menjadi titik terang perekrutan di tengah efisiensi yang didorong AI di sektor ini. Dengan jumlah tenaga kerja TCS sekitar 590.000 orang pada akhir Juni, tim FDE setara dengan 1 hingga 1,5 persen dari total karyawan. Krithivasan belum merinci apakah akan merekrut dari luar atau melatih ulang staf yang ada.
Langkah ini menempatkan TCS bersaing langsung dengan perusahaan seperti OpenAI, Anthropic, dan Microsoft yang juga gencar merekrut FDE untuk membantu klien menerapkan alat AI. Selain itu, TCS yang selama bertahun-tahun mengandalkan pertumbuhan organik dan jarang melakukan akuisisi, kini mulai melirik pembelian perusahaan di bidang AI, keamanan data, dan keamanan siber. "Kami mencari hal-hal yang dapat membantu memperkuat posisi strategis kami," ujar CFO Samir Seksaria.
Meski optimistis, Krithivasan mengakui pertumbuhan pendapatan AI tidak akan linear. Pada kuartal pertama tahun fiskal ini, pendapatan AI TCS hanya tumbuh 13 persen secara tahunan, turun drastis dari 28 persen pada kuartal sebelumnya. Ia menargetkan pertumbuhan kuartalan sekitar 25 persen dalam jangka panjang, namun tidak mengharapkan lintasan yang mulus. "Kami ingin bisnis ini tumbuh sekitar 25 persen per kuartal, tapi itu tidak akan terjadi secara linear," katanya.
Bagi Indonesia, langkah TCS menjadi pengingat bahwa persaingan global di bidang AI semakin ketat. Perusahaan teknologi Indonesia yang bergerak di jasa outsourcing atau pengembangan perangkat lunak perlu bersiap menghadapi pergeseran permintaan: klien tidak lagi sekadar mencari tenaga murah, melainkan mitra yang mampu mengintegrasikan AI ke dalam sistem bisnis mereka. Investasi TCS yang mencapai 1 miliar dolar AS per tahun untuk pengembangan bakat juga menunjukkan betapa seriusnya perusahaan dalam mempersiapkan tenaga kerja AI.
Ke depan, pertanyaan besarnya adalah apakah model FDE ini akan menjadi standar baru di industri jasa TI global, atau justru mempercepat otomatisasi yang pada akhirnya mengurangi jumlah tenaga kerja manusia. TCS tampaknya bertaruh pada yang pertama, namun investor dan pelaku industri akan terus mengawasi apakah pertumbuhan pendapatan AI dapat kembali ke level yang diharapkan.



