S. Janaki Tutup Usia: Legenda 48.000 Lagu India Selatan Berpulang
Baca dalam 60 detik
- Penyanyi legendaris India Selatan S. Janaki meninggal di usia 88 tahun akibat serangan jantung di Mysuru.
- Sepanjang karier 60 tahun, ia merekam lebih dari 48.000 lagu dalam 20 bahasa, menjadikannya salah satu penyanyi paling produktif di India.
- Kepergiannya meninggalkan jejak mendalam di industri musik film India Selatan, dengan warisan lagu yang terus dikenang lintas generasi.

Dunia musik India Selatan kehilangan salah satu suara paling ikonik. Sistla Janaki, atau yang akrab disapa Janaki Amma, mengembuskan napas terakhir pada Sabtu (11/7) di Mysuru setelah mengalami serangan jantung saat menjalani perawatan intensif. Usianya 88 tahun.
Kabar duka ini dikonfirmasi oleh cucunya, Apsara Vydyula. Meskipun tim medis berusaha melakukan resusitasi berulang kali, nyawa Janaki tak tertolong. Keluarga menyebut kepergiannya berlangsung damai, dikelilingi orang-orang terkasih.
Janaki bukan sekadar penyanyi playback. Ia adalah fenomena. Dalam karier yang membentang lebih dari enam dekade, ia merekam lebih dari 48.000 lagu untuk film, album, televisi, dan radio. Angka itu menjadikannya salah satu penyanyi paling produktif di India, bahkan dunia. Ia bernyanyi dalam 20 bahasa, termasuk Telugu, Tamil, Kannada, Malayalam, Hindi, Sansekerta, Odia, Tulu, Urdu, Punjabi, Bengali, Konkani, dan beberapa bahasa asing.
Kariernya dimulai pada 1957 lewat film Tamil Vidhiyin Vilayattu dan Telugu M.L.A. Hanya dalam tahun pertama, ia sudah merekam lagu dalam enam bahasa. Prestasi itu luar biasa mengingat ia tidak memiliki latar belakang industri yang mapan. Ia pindah ke Chennai di usia 20-an atas saran pamannya, lalu bekerja dengan komposer R. Sudarsanam di AVM Studios.
Kemampuan Janaki tidak hanya pada kuantitas. Ia dijuluki "Ratu Ekspresi" karena mampu mengubah suaranya sesuai karakter di layar—dari anak kecil, pengantin pemalu, gadis desa, hingga wanita kota modern—sering kali dalam satu film. Ia membawakan emosi dari kepolosan hingga duka, dari keceriaan hingga pengabdian, hanya dengan perubahan nada halus.
Dalam industri film Kannada, Janaki menjadi pilihan utama untuk playback perempuan. Ia menjalin kemitraan panjang dengan aktor legendaris Dr. Rajkumar. Duet pertama mereka, "Tumbitu Manavaa" dari film Mahishasura Mardini, menjadi klasik. Atas kontribusinya, Universitas Mysore menganugerahkan gelar doktor kehormatan pada 2009, dan Pemerintah Karnataka memberinya Rajyotsava Prashasti pada 2014.
Di Malayalam, Janaki dijuluki "dathu puthri" (putri angkat). Ia mempelajari bahasa itu dengan tekun untuk menguasai aksen dan ritme, sehingga menjadi salah satu suara paling dicari pada 1970-an hingga pertengahan 1980-an. Lagu-lagu seperti "Thumbi Vaa" dan "Unarunaroo" masih melekat di ingatan kolektif Kerala. Ia memenangkan sepuluh penghargaan negara bagian Kerala sepanjang kariernya.
Dalam film Tamil, Janaki bekerja dengan komposer besar seperti A. R. Rahman di awal kariernya. Lagu "Ottagatha Kattiko" dan "Mudhalvane" masih populer. Ia memenangkan Penghargaan Playback Perempuan Terbaik Tamil Nadu untuk "Margazhi Thinkal Allava" dari film Sangamam. Pada 1986, ia menerima Kalaimamani, penghargaan tertinggi negara bagian untuk seniman.
Jangkauan Janaki meluas hingga Bollywood berkat komposer Bappi Lahiri yang terkesan dengan suaranya. Ia kemudian merekam beberapa duet dengan Kishore Kumar. Ia juga mendapat penghargaan negara bagian Odisha untuk film Sata Kebe Luchi Rahena, setelah merekam sekitar 68 lagu dalam bahasa Odia.
Pensiun pada 28 Oktober 2017 setelah konser perpisahan di Mysuru, Janaki menutup 60 tahun pengabdiannya. Rekaman terakhirnya adalah lagu pengantar tidur Malayalam "Amma Poovinum" dari film 10 Kalpanakal.
Kepergian Janaki meninggalkan duka mendalam di industri. Aktor Kamal Haasan dan Rajinikanth, komposer Anirudh Ravichander, serta penyanyi Chinmayi Sripaada termasuk yang memberikan penghormatan. Chinmayi mengenang saat menyaksikan Janaki tampil langsung, dengan kemampuan mengubah suara antara anak-anak, wanita, dan pria dalam satu lagu.
Bagi penggemar musik di Indonesia, kisah Janaki mengingatkan pada sosok-sosok legendaris Tanah Air seperti Titiek Puspa atau Bing Slamet, yang suaranya menjadi bagian dari sejarah. Warisan Janaki—puluhan ribu rekaman yang terus didengar—adalah bukti bahwa suara sejati tak pernah benar-benar padam.
Pertanyaan yang kini menggantung: akankah industri musik India Selatan mampu melahirkan lagi seorang penyanyi dengan jangkauan bahasa dan ekspresi seluas Janaki? Atau, seperti yang dikatakan banyak pengamat, era emas playback singing telah benar-benar berakhir?



