Sekolah Rakyat Buktikan Diri: Anak Miskin Ekstrem di Lombok Barat Raih Prestasi Nasional
Baca dalam 60 detik
- Program Sekolah Rakyat yang menyasar keluarga miskin ekstrem mulai menunjukkan dampak nyata, dengan siswa meraih prestasi nasional dan peningkatan kepercayaan diri.
- Pendekatan negara yang menjemput anak dari data DTSEN, bukan membuka pendaftaran, menjadi kunci menjangkau mereka yang selama ini terpinggirkan.
- Keberhasilan awal ini menjadi uji coba bagi perluasan program ke daerah lain, dengan target melahirkan generasi pemimpin dari kalangan termiskin.

Dua siswa Sekolah Rakyat di Lombok Barat, Nusa Tenggara Barat, membuktikan bahwa latar belakang ekonomi bukanlah penghalang untuk berprestasi. Novatul Alratia (14) dan Haikal Abdul Majid (14) adalah contoh nyata bagaimana program afirmasi pendidikan bagi keluarga miskin ekstrem mampu mengubah arah hidup anak-anak yang sebelumnya nyaris kehilangan harapan.
Menteri Sosial Saifullah Yusuf, yang akrab disapa Gus Ipul, mengungkapkan bahwa setelah satu tahun berjalan, Sekolah Rakyat rintisan yang dimulai Juli 2025 telah menunjukkan transformasi signifikan. Dalam kunjungannya ke Sentra Paramita Mataram, Jumat (10/7), ia menyaksikan sendiri para siswa yang sebelumnya pemalu dan minder kini tampil percaya diri di depan umum. โAnak-anak yang selama ini mungkin mengubur mimpinya, sekarang mulai lebih percaya diri, lebih optimistis, dan berani meraih cita-citanya,โ ujarnya.
Sekolah Rakyat dirancang khusus untuk anak-anak dari keluarga pada desil 1 dan 2 dalam Data Tunggal Sosial Ekonomi Nasional (DTSEN), yakni kelompok dengan kondisi sosial ekonomi terendah. Uniknya, program ini tidak membuka pendaftaran umum. Sebaliknya, negara secara aktif menjangkau keluarga yang selama ini luput dari perhatian pembangunan. โNegara yang menjangkau keluarga-keluarga yang selama ini mungkin belum terlihat dalam proses pembangunan,โ tegas Gus Ipul.
Kisah Novatul menjadi salah satu yang paling menyentuh. Remaja asal SRMP 18 Lombok Barat ini mengaku dulunya pemalu dan kurang percaya diri, terutama setelah ekonomi keluarganya terpuruk akibat pandemi. Namun, setelah setahun di Sekolah Rakyat, ia berhasil meraih juara pertama pencak silat tingkat nasional. Kini, Novatul mantap bercita-cita menjadi polisi wanita. Ibunya bersyukur melihat perubahan putrinya yang kini lebih disiplin, percaya diri, dan rajin membantu pekerjaan rumah.
Hal serupa dialami Haikal. Tinggal bersama bibinya setelah masalah keluarga, ia menemukan lingkungan baru yang suportif di Sekolah Rakyat. โSaya merasa senang karena bisa banyak teman, guru-gurunya baik kepada saya, dan bisa makan gratis di sini,โ katanya. Haikal yang bercita-cita menjadi psikolog ini bahkan kini berani menjadi imam di sekolah, sebuah peningkatan kepercayaan diri yang signifikan.
Gus Ipul menegaskan bahwa Sekolah Rakyat adalah wujud nyata perhatian Presiden Prabowo Subianto terhadap pendidikan anak-anak dari keluarga miskin ekstrem. Program ini memberikan akses pendidikan berkualitas dengan sistem asrama penuh selama 24 jam, yang diharapkan mampu membentuk karakter dan keterampilan. โOrang tua kalian bisa jadi pemulung, buruh serabutan, atau pekerja bangunan, tetapi tetap harus dihormati. Mudah-mudahan dari Sekolah Rakyat ini lahir dokter, guru, psikolog, polisi, pilot, bahkan Presiden Republik Indonesia di masa depan,โ pungkas Gus Ipul.
Keberhasilan awal di Lombok Barat ini menjadi tolok ukur bagi perluasan program Sekolah Rakyat ke daerah lain. Pertanyaannya, mampukah model ini direplikasi secara konsisten dan berkelanjutan untuk mengangkat jutaan anak Indonesia dari jerat kemiskinan struktural?



