CEO SK Hynix Peringatkan Krisis Pasokan Memori Terparah pada 2027, Permintaan AI Kian Tak Terbendung
Baca dalam 60 detik
- SK Hynix memperkirakan kelangkaan pasokan memori global mencapai puncaknya pada 2027, dengan permintaan tetap melampaui kapasitas produksi hingga setelah 2030.
- Ekspansi pabrik di Korea Selatan, AS, dan kandidat lain belum mampu mengejar lonjakan kebutuhan memori bandwidth tinggi (HBM) untuk kecerdasan buatan.
- Investasi raksasa dari para hyperscaler dan proyeksi undersupply hingga 2028 mengonfirmasi bahwa siklus AI masih jauh dari titik jenuh.

Industri memori global tengah bersiap menghadapi krisis pasokan terburuk dalam sejarah pada 2027, saat permintaan chip untuk kecerdasan buatan (AI) diprediksi terus melampaui kemampuan produksi hingga dekade berikutnya. Peringatan itu disampaikan langsung oleh Kwak Noh-jung, CEO SK Hynix, dalam wawancara eksklusif dengan Reuters pada Jumat (10/7), bertepatan dengan hari pertama perdagangan saham perusahaan di Nasdaq.
Menurut Kwak, tahun depan akan menjadi titik paling kritis dari sisi pasokan. “Permintaan pelanggan terus meningkat, sementara kapasitas kami terbatas. Kami memperkirakan permintaan akan tetap lebih tinggi dari pasokan bahkan setelah 2030,” ujarnya. SK Hynix, yang memimpin pengembangan High-Bandwidth Memory (HBM) untuk chip Nvidia, menjadi pemain kunci dalam rantai pasok AI global. Namun, ekspansi agresif pabrik di Icheon, Cheongju, dan Yongin belum cukup menjawab kebutuhan.
Kekhawatiran akan titik jenuh investasi AI sempat menekan harga saham SK Hynix—turun 18 persen dalam dua pekan terakhir—meski secara tahunan masih melonjak lebih dari tujuh kali lipat. Spekulasi itu dipicu laporan bahwa Apple mulai mendiversifikasi pemasok semikonduktor ke China dan Meta berencana mengkomersialkan kapasitas komputasi AI berlebih. Namun, para eksekutif dan analis industri tetap yakin pasokan memori masih tertinggal dari permintaan.
Pendapat senada datang dari Jensen Huang, CEO Nvidia, yang bulan lalu menyatakan kelangkaan memori AI akan berlangsung beberapa tahun ke depan. UBS juga memperkirakan industri DRAM global akan tetap kekurangan pasokan setidaknya hingga kuartal kedua 2028. Bank of America menambahkan bahwa dana US$244 miliar yang dihimpun para hyperscaler tahun ini lebih mencerminkan optimalisasi neraca, bukan tanda kesulitan pendanaan—artinya, modal masih melimpah untuk infrastruktur AI.
Bagi Indonesia, dinamika ini membawa implikasi strategis. Sebagai pengimpor chip dan konsumen akhir produk berbasis AI, kelangkaan pasokan memori berpotensi menaikkan harga perangkat elektronik, server, dan infrastruktur data center. Di sisi lain, peluang investasi di sektor hilir semikonduktor—seperti perakitan dan pengemasan chip—semakin terbuka. Pemerintah Indonesia yang tengah mendorong pengembangan ekosistem digital dan industri 4.0 perlu mencermati tren ini agar tidak tertinggal dalam rantai pasok global.
SK Hynix sendiri belum memutuskan lokasi pabrik baru di luar Korea. Kwak menyebut AS, Jepang, dan Asia Tenggara sebagai kandidat, dengan syarat ketersediaan lahan, listrik, air, dan tenaga kerja terampil dengan biaya kompetitif. Perusahaan telah menggelontorkan US$4 miliar untuk pabrik pengemasan chip di Indiana dan US$10 miliar untuk perusahaan solusi AI di AS. Sementara itu, pemerintah Korea Selatan mendorong investasi 400 triliun won (US$266 miliar) masing-masing untuk SK Hynix dan Samsung guna menggandakan kapasitas produksi memori dalam lima tahun—langkah yang menuai kekhawatiran investor akan risiko oversupply jika terjadi perlambatan.
Pertanyaan besarnya kini: akankah ekspansi besar-besaran ini cukup untuk mengejar permintaan yang terus melesat, atau justru menciptakan gelembung baru di industri semikonduktor? Yang jelas, ketegangan antara pasokan dan permintaan memori AI masih akan menjadi cerita utama dalam beberapa tahun ke depan.



