Gelombang Panas Jepang: Suhu 39,3°C di Kyushu Samai Rekor, Warga Diimbau Waspada
Baca dalam 60 detik
- Suhu di Dazaifu, Fukuoka, mencapai 39,3°C pada Sabtu (11/7), menyamai rekor tertinggi di wilayah tersebut.
- Badan Meteorologi Jepang mencatat 43 dari 914 titik observasi masuk kategori 'hari sangat panas' dengan suhu di atas 35°C.
- Peringatan dini heatstroke dikeluarkan untuk prefektur Fukuoka dan Kumamoto, dengan prediksi suhu ekstrem meluas ke barat dan timur Jepang pekan depan.

Gelombang panas kembali melanda Jepang bagian barat daya. Pada Sabtu (11/7) lalu, suhu di Dazaifu, sebuah kota wisata di Prefektur Fukuoka, Pulau Kyushu, menyentuh 39,3 derajat Celsius — menyamai rekor tertinggi yang pernah tercatat di wilayah tersebut. Kondisi ini memicu peringatan dini terhadap risiko sengatan panas (heatstroke) bagi warga dan wisatawan.
Badan Meteorologi Jepang (JMA) melaporkan bahwa dari 914 titik pemantauan suhu di seluruh negeri, sebanyak 43 titik mencatat suhu 35°C atau lebih. Angka tersebut masuk dalam kategori "hari yang sangat panas" menurut definisi lembaga tersebut. Lebih dari separuh titik pemantauan — tepatnya 491 lokasi — mencatat suhu di atas 30°C, menandakan bahwa hampir seluruh wilayah Jepang tengah dilanda panas ekstrem.
Selain Dazaifu, suhu tinggi juga tercatat di Hita, Prefektur Oita, yang mencapai 38,3°C, serta Kurume di Fukuoka dengan 38,1°C. Pemerintah daerah di Fukuoka dan Kumamoto mengimbau masyarakat untuk tidak beraktivitas di luar ruangan pada siang hari, memperbanyak minum air, dan menggunakan pendingin ruangan secara bijak guna mencegah heatstroke.
Fenomena ini bukan sekadar catatan cuaca biasa. Gelombang panas ekstrem di Jepang kerap dikaitkan dengan perubahan iklim global. Para ahli meteorologi menilai bahwa peningkatan suhu rata-rata bumi turut memperkuat sistem tekanan tinggi di Pasifik Utara, yang membawa massa udara panas ke kepulauan Jepang. Kondisi serupa juga pernah terjadi pada musim panas 2018 dan 2020, yang menyebabkan ratusan orang dirawat karena heatstroke.
Bagi Indonesia, gelombang panas di Jepang menjadi pengingat akan pentingnya kesiapsiagaan menghadapi cuaca ekstrem. Meskipun Indonesia beriklim tropis dengan suhu rata-rata lebih stabil, fenomena heatwave tetap berpotensi terjadi di beberapa wilayah, terutama saat musim kemarau. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) sebelumnya mencatat suhu maksimum di Indonesia bisa mencapai 37–38°C di daerah perkotaan padat seperti Jakarta dan Surabaya. Oleh karena itu, adaptasi seperti penyediaan ruang terbuka hijau dan sistem peringatan dini heatstroke perlu terus diperkuat.
Ke depan, JMA memperkirakan suhu panas akan terus berlanjut dan meluas ke wilayah barat dan timur Jepang hingga Sabtu depan. Masyarakat diimbau untuk terus memantau informasi cuaca terkini dan tidak menyepelekan gejala awal heatstroke seperti pusing, mual, dan kulit kering. Pertanyaan yang kini mengemuka: akankah gelombang panas ini menjadi rekor baru, atau justru menjadi pola musiman yang semakin sering terjadi akibat perubahan iklim?



