Kisah di Balik Ambruknya Matahari Department Store ke Tangan Keluarga Riady
Baca dalam 60 detik
- Hari Darmawan mendirikan Matahari dari toko kecil di Pasar Baru, lalu berkembang menjadi jaringan ritel dengan 155 gerai di seluruh Indonesia.
- Pinjaman Rp 1,6 triliun dari James Riady pada 1990-an menjadi bumerang ketika Lippo Group mengakuisisi Matahari saat puncak kejayaannya pada 1996.
- Akuisisi ini menyisakan misteri mengapa pendiri rela melepas perusahaan yang tengah beromzet Rp 2 triliun tanpa tekanan finansial.

Pada 1996, Matahari Department Store, yang saat itu tengah berada di puncak kejayaan dengan 155 gerai di 81 kota dan omzet Rp 2 triliun, tiba-tiba berpindah tangan ke keluarga Riady, pemilik Lippo Group. Langkah ini mengejutkan banyak pihak karena tidak ada tanda-tanda kesulitan keuangan yang melanda perusahaan ritel yang identik dengan Hari Darmawan tersebut.
Perjalanan Matahari dimulai dari sebuah toko kecil bernama Micky Mouse di Pasar Baru, Jakarta, pada 1960. Hari Darmawan, pendirinya, menjual pakaian impor dan koleksi bermerek MM Fashion yang diproduksi istrinya. Meski lima tahun pertama berjalan mulus, Hari merasa iri pada toko tetangga, De Zion, yang selalu ramai dikunjungi kalangan berada. Berulang kali ia mencoba meniru strategi De Zion, namun gagal.
Kesempatan datang pada 1968 ketika pemilik De Zion berniat menjual tokonya. Dengan pinjaman US$ 200 juta dari Citibank, Hari mengakuisisi dua gerai De Zion di Jakarta dan Bogor, lalu mengganti namanya menjadi "Matahari"—terjemahan dari "De Zion" dalam bahasa Belanda. Terinspirasi dari Sogo Department Store Jepang, ia mengisi tokonya dengan beragam produk, dari pakaian hingga peralatan elektronik. Strategi ini membuahkan hasil: Matahari tumbuh pesat sepanjang 1970-1980-an dan mulai merambah kota-kota lain pada 1990-an.
Puncak ekspansi terjadi pada 1989 ketika Matahari melantai di bursa saham dengan kode emiten LPPF. Namun, ambisi Hari untuk membuka 1.000 gerai membuatnya mencari pendanaan besar. James Riady, putra pendiri Lippo Group, menawarkan pinjaman Rp 1,6 triliun dengan bunga rendah. Hari menerimanya tanpa curiga. Tak lama setelah dana cair, James justru mendirikan gerai WalMart—raksasa ritel AS—tepat di depan setiap toko Matahari. Persaingan sengit pun terjadi, namun WalMart kalah dan Matahari tetap berjaya.
Meski berhasil mempertahankan dominasi, pada 1996 James Riady mengajukan tawaran pembelian Matahari. Tanpa perlawanan berarti, Hari Darmawan menjual seluruh sahamnya. Keputusan ini memicu spekulasi: mengapa seorang pendiri yang perusahaannya sedang gemilang rela melepas kendali? Beberapa analis menilai ada tekanan tersembunyi dari struktur pinjaman, sementara yang lain menduga Hari telah kehilangan semangat bersaing setelah bertahun-tahun berhadapan dengan Lippo Group. Hingga kini, alasan pasti di balik penjualan itu masih menjadi misteri.
Setelah akuisisi, Matahari resmi menjadi bagian dari Lippo Group dan nama Hari Darmawan perlahan memudar dari panggung ritel nasional. Bagi investor dan pelaku industri, kisah ini menjadi pengingat bahwa kesuksesan bisnis tidak selalu berakhir di tangan pendiri. Pertanyaannya, apakah model pengambilalihan ala Lippo Group ini akan terulang di sektor ritel Indonesia yang tengah bergulat dengan tekanan digitalisasi dan perubahan perilaku konsumen?



