Johor Memilih: Pertarungan Sengit BN vs PH, Nasib Anwar di Ujung Tanduk
Baca dalam 60 detik
- Lebih dari 2,7 juta pemilih Johor menggunakan hak suara dalam pemilu negara bagian yang diprediksi akan dimenangi Barisan Nasional (BN), namun Pakatan Harapan (PH) berpotensi merebut kursi marginal jika partisipasi pemilih Tionghoa mencapai 65 persen.
- Isu biaya hidup, perumahan, dan keterlambatan masterplan Johor-Singapore Special Economic Zone (JS-SEZ) mendominasi kampanye, sementara klaim pembebasan Najib Razak turut mewarnai kontestasi.
- Hasil pemilu ini akan menjadi indikator dukungan publik terhadap Perdana Menteri Anwar Ibrahim menjelang pemilu nasional 2028, serta menentukan arah hubungan antara pemerintah federal, kerajaan Johor, dan Singapura.

Johor Bahru, Sabtu (11/7) โ Lebih dari 2,7 juta warga Johor mulai memberikan suara dalam pemilihan negara bagian yang dipandang sebagai uji kekuatan antara koalisi penguasa Barisan Nasional (BN) dan Pakatan Harapan (PH) pimpinan Perdana Menteri Anwar Ibrahim. Hingga pukul 14.00 waktu setempat, Komisi Pemilihan Malaysia mencatat partisipasi mencapai 48,9 persen, lebih tinggi 9 poin dibanding pemilu 2022.
Meski BN dan PH merupakan mitra dalam pemerintahan persatuan federal, keduanya tetap bersaing sengit di Johor. Pada pemilu 2022, BN menguasai 40 dari 56 kursi, sementara PH hanya meraih 12 kursi. Namun, analis memperkirakan pertarungan kali ini lebih ketat, terutama di daerah perkotaan dan campuran yang menjadi basis pemilih Tionghoa.
Isu biaya hidup, keterjangkauan perumahan, serta keterlambatan peluncuran masterplan Johor-Singapore Special Economic Zone (JS-SEZ) menjadi sorotan utama selama dua pekan kampanye. Ketua BN Johor merangkap Menteri Besar petahana, Onn Hafiz Ghazi, mengkritik pemerintah federal yang dinilai lamban meluncurkan masterplan tersebut. Anwar pun bereaksi keras, menyebut kritik itu tidak etis karena proyek JS-SEZ masih berjalan dan mendapat bantuan dana federal.
Pertarungan di daerah pemilihan Puteri Wangsa menjadi salah satu yang paling menarik perhatian. Mantan Menteri Pendidikan Maszlee Malik maju sebagai calon PH dan disebut-sebut sebagai kandidat Menteri Besar jika PH memenangkan mayoritas. Ia menghadapi persaingan ketat dari MUDA, BN, Bersama, dan independen. Sementara itu, kursi Stulang yang dipegang PH juga diincar oleh tiga penantang lainnya.
Partai reformis kecil seperti Parti Bersama Malaysia (Bersama) dan Malaysian United Democratic Alliance (MUDA) berpotensi memecah suara pemilih perkotaan yang selama ini setia pada PH. Analis dari University of Tasmania, James Chin, menyoroti kemungkinan pergeseran suara etnis Tionghoa dari DAP ke partai lain, seperti yang terjadi di Sabah pada November 2025 ketika DAP kehilangan semua kursinya.
Ketegangan internal juga mewarnai koalisi oposisi Perikatan Nasional (PN). PAS secara terbuka mendorong pendukungnya untuk memilih BN di kursi yang tidak diikuti PN, dengan alasan menjaga dominasi politik Melayu-Muslim. Namun, Onn Hafiz menolak tawaran dukungan PAS. Sementara itu, pemimpin Bersatu, Muhyiddin Yassin, menyatakan pendukungnya bebas memilih di kursi yang tidak diikuti PN, menunjukkan perpecahan strategi.
Hasil pemilu Johor akan menjadi barometer dukungan publik terhadap Anwar Ibrahim menjelang pemilu nasional yang dijadwalkan paling lambat Februari 2028. Selain itu, keputusan istana Johor mengenai Menteri Besar akan menentukan arah hubungan antara pemerintah federal, kerajaan, dan Singapura. Investor dan pelaku pasar akan mencermati stabilitas politik di negara bagian yang berbatasan langsung dengan Singapura ini.



