Investor Kakap Masih Optimistis di Tengah Tekanan Pasar: Obligasi dan Saham Jadi Andalan
Baca dalam 60 detik
- Direktur Ashmore Asset Management menilai pasar keuangan Indonesia masih prospektif meski dibayangi risiko geopolitik dan sentimen negatif indeks provider.
- Obligasi negara (SBN) menawarkan imbal hasil tertinggi di Asia, namun isu transparansi dan tata kelola menjadi catatan penting bagi investor.
- Valuasi saham domestik yang murah dan dividen menarik menjadi daya tarik, tetapi risiko pasar masih membayangi sehingga diperlukan strategi cermat.

Di tengah tekanan geopolitik global dan kekhawatiran terhadap penilaian indeks penyedia layanan keuangan terhadap Indonesia, investor institusi besar justru melihat peluang di pasar domestik. Direktur Ashmore Asset Management, Steven Satya Yudha, menilai prospek investasi di tanah air masih cerah, terutama pada instrumen obligasi dan saham yang menawarkan imbal hasil kompetitif di kawasan.
Menurut Steven, Surat Berharga Negara (SBN) saat ini memberikan imbal hasil terbaik dibandingkan obligasi negara berkembang lainnya di Asia. Namun, ia mengingatkan bahwa tingginya return tersebut seiring dengan risiko yang tidak kecil. Isu transparansi dan tata kelola yang masih menjadi sorotan pelaku pasar perlu segera dibenahi agar kepercayaan investor semakin kuat. โPerbaikan governance menjadi kunci untuk menjaga daya tarik investasi di Indonesia,โ ujarnya dalam program Power Lunch CNBC Indonesia, Kamis (8/7/2026).
Dari sisi pasar saham, Steven menilai valuasi saat ini sudah sangat murah, sehingga memberikan ruang bagi investor untuk masuk dengan harga diskon. Ditambah dengan penawaran dividen yang masih menggiurkan, saham-saham unggulan di Bursa Efek Indonesia menjadi alternatif menarik. Namun, ia tidak menampik bahwa sejumlah risiko masih membayangi, seperti ketidakpastian kebijakan moneter global dan potensi perlambatan ekonomi.
Bagi investor ritel di Indonesia, kondisi ini bisa menjadi momentum untuk mulai melirik instrumen obligasi negara yang memberikan kupon tinggi, atau menunggu titik masuk yang tepat di pasar saham. Namun, diperlukan kehati-hatian ekstra mengingat volatilitas yang masih tinggi. Steven menyarankan diversifikasi portofolio sebagai langkah mitigasi risiko, dengan porsi yang disesuaikan terhadap profil risiko masing-masing.
Ke depan, arah kebijakan bank sentral AS dan perkembangan geopolitik akan menjadi faktor penentu pergerakan pasar. Pertanyaan besarnya, apakah investor kakap akan terus menambah eksposur atau justru mengurangi posisi? Jawabannya tergantung pada seberapa cepat pemerintah Indonesia mampu membenahi isu transparansi dan governance yang menjadi perhatian utama pasar global.



