Makanan Ultra-Proses Tinggalkan Jejak Berbahaya di Darah, Studi Eropa Temukan
Baca dalam 60 detik
- Analisis terhadap 15.200 partisipan Eropa menunjukkan konsumsi tinggi makanan ultra-proses mengubah profil asam lemak darah, menurunkan omega-3 esensial dan meningkatkan lemak trans industri.
- Perubahan metabolik ini, termasuk gangguan oksidasi lemak dan fungsi mitokondria, dapat menjadi jembatan biologis antara pola makan modern dan risiko penyakit kronis.
- Temuan ini memperkuat urgensi pengawasan produk pangan olahan di Indonesia, di mana konsumsi mi instan dan camilan kemasan terus meningkat tanpa regulasi ketat.

Konsumsi makanan ultra-proses (UPF) tidak hanya sekadar menambah asupan kalori kosong, tetapi juga meninggalkan jejak kimiawi yang terukur dalam aliran darah. Sebuah studi observasional berskala besar yang diterbitkan di jurnal Critical Reviews in Food Science and Nutrition menemukan bahwa individu dengan asupan UPF tinggi memiliki profil asam lemak yang tidak sehat—kadar lemak trans industri dan asam lemak jenuh tertentu melonjak, sementara kadar asam lemak omega-3 yang bermanfaat bagi jantung dan otak justru menurun drastis.
Penelitian yang menganalisis data dari kohort EPIC—melibatkan lebih dari 520.000 sukarelawan dari sepuluh negara Eropa—ini memeriksa kuesioner diet dan sampel darah lebih dari 15.200 partisipan. Tim peneliti yang dipimpin oleh Jessica Blanco-López dari Universidad Francisco Marroquín, Guatemala, mengklasifikasikan makanan berdasarkan sistem NOVA yang membagi tingkat pemrosesan pangan. Alih-alih menghitung kalori, mereka mencatat asupan UPF dalam gram per hari untuk mengakomodasi makanan dan minuman rendah kalori atau bebas kalori yang tetap berkontribusi signifikan terhadap total konsumsi.
Hasilnya menunjukkan bahwa mereka yang paling banyak mengonsumsi UPF memiliki konsentrasi lipid derivatif tertentu yang lebih tinggi—biomarker gangguan oksidasi asam lemak dan disfungsi mitokondria. Sebaliknya, kadar beberapa lipid esensial untuk stabilitas membran sel, permeabilitas, dan sinyal seluler justru lebih rendah. “Perubahan asam lemak yang bersirkulasi, terutama rendahnya kadar omega-3 seperti DHA bersamaan dengan tingginya omega-6 dan lemak trans industri, adalah temuan paling signifikan,” ujar Blanco-López.
Thomas M. Holland, peneliti dari RUSH Institute for Healthy Aging di Chicago yang tidak terlibat dalam studi, menekankan bahwa penelitian ini melangkah lebih jauh dari sekadar mengaitkan UPF dengan penyakit kronis. “Para peneliti mengidentifikasi tanda tangan metabolik yang dapat membantu menjelaskan mengapa hubungan itu ada. Mereka menemukan perubahan biologis terukur yang menyertai konsumsi UPF yang lebih besar,” katanya. Holland menambahkan bahwa jenis lemak yang bersirkulasi dalam darah memengaruhi proses kesehatan kardiovaskular, metabolik, dan otak.
Meski bersifat observasional dan belum membuktikan hubungan sebab-akibat, temuan ini memberikan bukti biologis yang memperkuat dugaan bahwa UPF memicu kerusakan melalui jalur metabolisme lemak. Blanco-López menegaskan bahwa “apa yang kita makan meninggalkan sidik jari yang terukur dalam metabolisme kita, dan makanan ultra-proses meninggalkan sidik jari yang khas.”
Konteks Indonesia: Ancaman di Meja Makan
Temuan ini relevan bagi Indonesia, di mana konsumsi pangan ultra-proses seperti mi instan, biskuit kemasan, minuman berpemanis, dan makanan ringan olahan terus meningkat seiring urbanisasi dan perubahan gaya hidup. Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) sebenarnya telah mewajibkan pencantuman informasi nilai gizi pada label, namun belum ada batasan khusus untuk kandungan lemak trans industri. Sementara itu, data Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) menunjukkan prevalensi obesitas pada dewasa meningkat dari 21,8% (2018) menjadi lebih dari 30% pada beberapa kelompok usia. Pola makan tinggi UPF diduga menjadi salah satu pendorong utama.
Para ahli menyarankan agar konsumen mulai membatasi konsumsi makanan olahan dan beralih ke pangan segar atau minimal diproses. “Penuaan yang sehat dibangun dari kebiasaan harian yang konsisten, bukan kesempurnaan,” kata Holland. “Pola makan yang berpusat pada makanan minim proses, dikombinasikan dengan aktivitas fisik teratur, tidur cukup, manajemen stres, dan hubungan sosial yang bermakna, memberikan fondasi kuat untuk menjaga fungsi fisik dan kognitif sepanjang hayat.”
Ke depan, Blanco-López berharap temuannya direplikasi pada populasi dengan kebiasaan diet berbeda, termasuk di Asia Tenggara. Studi longitudinal dan uji coba pemberian makan terkontrol diperlukan untuk memastikan apakah perubahan metabolik ini benar-benar berasal dari konsumsi UPF dan berkontribusi pada perkembangan penyakit kronis. Pertanyaan yang kini mengemuka: akankah regulator dan industri pangan di Indonesia merespons bukti ini dengan kebijakan yang lebih ketat, atau membiarkan jejak berbahaya itu terus mengendap di darah masyarakat?



