Bebas Bersyarat, Terdakwa POCSO di India Habisi 6 Nyawa Termasuk Korban dan Keluarganya
Baca dalam 60 detik
- Seorang pria di Telangana, India, yang tengah menjalani bebas bersyarat dalam kasus pelecehan anak, membunuh enam orang termasuk korban minor dan keluarganya.
- Pelaku juga menewaskan istri dan dua anaknya sendiri sebelum melarikan diri; polisi masih memburunya.
- Insiden ini memicu kembali perdebatan tentang efektivitas sistem jaminan dan perlindungan saksi dalam kasus kekerasan seksual.

Seorang pria di negara bagian Telangana, India, yang sebelumnya bebas bersyarat dalam kasus pelecehan seksual anak, nekat membunuh enam orang pada Jumat (10/7) malam. Korban mencakup anak perempuan yang menjadi pelapor dalam kasus tersebut, ibu dan neneknya, serta istri dan dua anak pelaku sendiri.
Polisi setempat mengidentifikasi pelaku sebagai Raju Kumar, 35 tahun, warga Raiwalaguda. Menurut keterangan penyidik, Kumar mendatangi rumah korban di wilayah Shahbad, Kecamatan Rangareddy, dan menyerang tiga anggota keluarga korban. Setelah itu, ia kembali ke rumahnya dan membunuh istri serta dua anaknya sebelum melarikan diri.
Peristiwa berdarah ini terjadi di bawah yurisdiksi Polsek Shabad. Polisi menyebut Kumar menelepon keluarganya setelah pembunuhan dan mengaku telah menghabisi nyawa kedua keluarga. Ia juga mengungkapkan niat untuk mengakhiri hidupnya. Panggilan tersebut mendorong kerabatnya melapor ke polisi.
Kepolisian masih memburu Kumar yang diduga melarikan diri setelah kejadian. Jenazah keenam korban telah dibawa ke kamar mayat untuk menjalani otopsi. Seorang pejabat polisi menyatakan, "Kami masih menyelidiki motif pasti di balik pembunuhan ini, namun diduga kuat terkait dengan kasus POCSO yang menjeratnya."
Kasus ini menyoroti celah dalam sistem peradilan pidana India, khususnya terkait pemberian jaminan bagi terdakwa kejahatan seksual terhadap anak. Meskipun POCSO dirancang untuk memberikan perlindungan ketat pada korban, praktik bebas bersyarat kerap memicu risiko keselamatan bagi pelapor dan keluarganya. Di Indonesia, kasus serupa juga pernah terjadi, misalnya pada 2021 di mana seorang terdakwa pencabulan di Jawa Timur bebas bersyarat lalu mengancam korban. Hal ini menimbulkan pertanyaan tentang efektivitas pengawasan dan perlindungan saksi dalam sistem hukum.
Ke depan, kasus ini diperkirakan akan mendorong tuntutan revisi prosedur jaminan bagi terdakwa POCSO, termasuk evaluasi risiko yang lebih ketat dan pemantauan elektronik. Akankah tragedi berulang ini menjadi momentum perubahan kebijakan yang berarti?



