Meta Tarik Fitur AI Hasilkan Gambar dari Akun Publik Usai Hujan Kritik Privasi
Baca dalam 60 detik
- Meta menghentikan fitur AI yang memungkinkan pembuatan gambar dari foto publik Instagram hanya beberapa hari setelah diluncurkan, menyusul protes dari pengguna dan serikat pekerja Hollywood.
- Fitur tersebut menuai kecaman karena diaktifkan secara otomatis tanpa persetujuan eksplisit, memicu kekhawatiran tentang penyalahgunaan data pribadi di era kecerdasan buatan.
- Langkah ini menandai tekanan meningkat pada raksasa teknologi untuk menerapkan mekanisme opt-in yang jelas sebelum memanfaatkan konten publik untuk pelatihan atau fitur AI.

Meta Platforms resmi menarik fitur kecerdasan buatan yang baru dirilis pekan ini setelah menuai gelombang kritik tajam terkait privasi pengguna. Fitur yang memungkinkan pengguna menghasilkan gambar dari foto akun publik Instagram itu dianggap melanggar batas etika karena diaktifkan secara otomatis tanpa persetujuan eksplisit.
Dalam pernyataan resmi, Meta mengakui bahwa niat awal mereka adalah menyediakan alat kreatif yang berguna dan memberi kendali kepada pengguna atas konten publik mereka. Namun, masukan dari publik menunjukkan bahwa fitur tersebut meleset dari sasaran. "Kami mendengar bahwa fitur ini meleset dari sasaran, maka fitur ini tidak lagi tersedia," demikian bunyi pernyataan Meta.
Fitur bernama Muse Image tersebut merupakan model generasi gambar pertama dari Meta Superintelligence Labs, yang terintegrasi dengan chatbot Meta AI. Pengguna dapat memasukkan foto sebagai input dan menyunting gambar yang dihasilkan langsung melalui sketsa. Namun, dalam hitungan hari, protes keras bermunculan, terutama karena fitur tersebut otomatis aktif bagi semua pengguna.
Kritik paling vokal datang dari SAG-AFTRA, serikat pekerja yang mewakili aktor dan profesional media. Mereka mendesak anggota dan pengguna Instagram untuk memilih keluar dari fitur tersebut. "Apa pun selain opt-in yang jelas dan mencolok untuk penggunaan semacam ini tidak dapat diterima," kata perwakilan SAG-AFTRA. Setelah Meta menarik fitur tersebut, serikat pekerja menyambut langkah itu sebagai "hal yang bertanggung jawab untuk dilakukan."
Kasus ini menjadi pengingat bagi pengguna media sosial di Indonesia, yang jumlahnya mencapai lebih dari 190 juta. Banyak pengguna tanpa sadar mengizinkan data mereka digunakan untuk pelatihan AI karena pengaturan privasi yang rumit. Belum ada regulasi spesifik di Indonesia yang mewajibkan platform seperti Meta untuk mendapatkan persetujuan eksplisit sebelum menggunakan konten publik untuk fitur AI. Namun, tekanan publik global seperti ini bisa mendorong perubahan kebijakan yang lebih ketat, termasuk di Indonesia.
Langkah Meta ini juga mencerminkan tren yang lebih luas di industri teknologi: perusahaan mulai mundur dari fitur AI yang kontroversial setelah mendapat tekanan publik. Sebelumnya, Google dan Microsoft juga pernah menarik fitur serupa karena masalah privasi. Pertanyaan besarnya kini adalah apakah Meta akan menerapkan sistem opt-in yang lebih ketat sebelum meluncurkan fitur serupa di masa depan, atau justru mencari celah regulasi untuk tetap memonetisasi data publik.



