Filipina Dapat Lima Kapal Perang Bekas Jepang: Sinyal Perimbangan di Laut China Selatan
Baca dalam 60 detik
- Manila mengonfirmasi akuisisi lima kapal perusak kelas Abukuma dari Jepang secara cuma-cuma, sebagai bagian dari penguatan kerja sama pertahanan kedua negara.
- Kesepakatan ini terjadi setelah Jepang melonggarkan aturan ekspor senjata dan menyusul pertemuan pemimpin kedua negara di Tokyo pada Mei lalu.
- Pengiriman kapal diharapkan dalam beberapa tahun ke depan, menambah kapabilitas Angkatan Laut Filipina di tengah meningkatnya ketegangan maritim dengan China.

Filipina akan menerima lima kapal perusak bekas pakai dari Jepang secara gratis, sebuah langkah yang disebut Menteri Pertahanan Gilberto Teodoro sebagai "tanda itikad baik" dari Tokyo. Pengumuman ini menandai babak baru dalam hubungan pertahanan kedua negara yang semakin erat, terutama di tengah meningkatnya aktivitas China di Laut China Selatan.
Kesepakatan transfer kapal kelas Abukuma ini merupakan tindak lanjut dari pertemuan para pemimpin Filipina dan Jepang di Tokyo pada Mei lalu. Saat itu, kedua pihak sepakat mempercepat pembahasan alih teknologi pertahanan menyusul pelonggaran aturan ekspor senjata Jepang yang kini mengizinkan pengiriman senjata mematikan ke luar negeri.
Teodoro menyatakan bahwa detail administratif terakhir masih diselesaikan, namun kesepakatan sudah final. "Ini sudah menjadi kesepakatan jadi," ujarnya kepada wartawan di Manila, Selasa pekan lalu. Ia menambahkan bahwa pengiriman diperkirakan dilakukan dalam beberapa tahun ke depan. Kapal-kapal tersebut akan diserahkan tanpa biaya kepada pemerintah Filipina.
Bagi Indonesia, perkembangan ini patut dicermati. Penguatan militer Filipina di kawasan dapat mengubah peta kekuatan di Laut China Selatan, wilayah yang juga menjadi perhatian Jakarta. Meskipun Indonesia tidak memiliki klaim tumpang tindih dengan China di Laut Natuna Utara, dinamika keamanan regional tetap relevan. Kerja sama pertahanan Jepang-Filipina yang semakin intensif—termasuk perjanjian akses timbal balik yang mulai berlaku tahun lalu—menunjukkan pola aliansi baru di Asia Tenggara.
Menurut pengamat pertahanan dari Universitas Indonesia, transfer kapal ini bukan sekadar bantuan militer, melainkan sinyal geopolitik bahwa Jepang mulai berperan lebih aktif dalam menjaga stabilitas kawasan. "Jepang, melalui instrumen pertahanan, ingin menunjukkan komitmennya terhadap Indo-Pasifik yang bebas dan terbuka," ujarnya. Filipina sendiri akan mengevaluasi apakah sistem persenjataan kapal sesuai dengan kebutuhan operasionalnya, termasuk persyaratan tambatan.
Langkah ini juga menandai perubahan signifikan dalam kebijakan pertahanan Jepang pasca-Perang Dunia II. Dengan melonggarkan larangan ekspor senjata, Tokyo kini dapat mentransfer aset militer yang sebelumnya dianggap terlalu sensitif. Bagi Filipina, akuisisi ini menjadi lompatan besar bagi Angkatan Laut yang selama ini mengandalkan kapal bekas dari Amerika Serikat dan negara lain.
Ke depan, implementasi kesepakatan ini akan diawasi ketat oleh negara-negara kawasan. Pertanyaan yang muncul: apakah langkah serupa akan diikuti oleh negara-negara Asia Tenggara lainnya, termasuk Indonesia? Atau justru akan memicu perlombaan senjata regional? Yang jelas, keseimbangan kekuatan di Laut China Selatan sedang bergeser, dan Jakarta perlu menyiapkan strategi untuk menjaga kepentingan nasionalnya.



