Kesehatan Farhan Drop, Wali Kota Bandung Dilarikan ke RS: Kelelahan Akibat Jadwal Padat
Baca dalam 60 detik
- Wali Kota Bandung Muhammad Farhan mendadak dirawat di rumah sakit setelah mengalami penurunan kesehatan saat menerima tamu.
- Sekda Kota Bandung menyatakan Farhan mulai membaik namun masih menjalani pemeriksaan lanjutan untuk memastikan penyebab pasti.
- Dugaan sementara, kelelahan akibat jadwal kerja yang padat menjadi pemicu kondisi Farhan yang menurun drastis.

Wali Kota Bandung Muhammad Farhan mendadak dilarikan ke rumah sakit pada Jumat (10/7) sore setelah kesehatannya menurun drastis saat menerima tamu di ruang kerjanya. Hingga Sabtu (11/7), kondisi orang nomor satu di Kota Kembang itu dilaporkan mulai membaik, meski masih harus menjalani serangkaian pemeriksaan medis untuk mengungkap penyebab pasti penyakitnya.
Sekretaris Daerah (Sekda) Kota Bandung, Iskandar Zulkarnain, menyampaikan perkembangan terkini Farhan di sela-sela acara Asia Afrika Festival. "Alhamdulillah sekarang sudah baikan, tapi beliau memang harus tetap ada proses pemeriksaan lagi," ujarnya. Iskandar menambahkan bahwa Farhan dibawa ke rumah sakit menggunakan brankar dan harus mendapatkan infus. Akibat kondisi tersebut, Farhan terpaksa absen dari sejumlah agenda kenegaraan, termasuk acara festival yang dihadiri Sekda.
Hingga berita ini diturunkan, tim medis belum memberikan diagnosis pasti. Iskandar mengakui bahwa pihaknya masih menunggu laporan dokter. "Acara padat itu menyebabkan kondisi badan sebenarnya kurang fit. Saya belum tahu diagnosisnya karena dokternya belum ada kabar," kata Iskandar. Dugaan sementara, kelelahan akibat jadwal kerja yang sangat padat menjadi pemicu utama.
Sebelumnya, Farhan diketahui mengalami penurunan kesehatan saat menerima tamu di ruang kerjanya. Setelah agenda tersebut, ia seharusnya menghadiri rapat paripurna di DPRD Kota Bandung. Namun, kondisinya justru memburuk secara drastis, sehingga ia harus segera mendapatkan perawatan intensif di rumah sakit. Peristiwa ini menjadi pengingat akan beban kerja yang dihadapi kepala daerah, terutama di tengah padatnya agenda pemerintahan dan kemasyarakatan.
Kelelahan ekstrem atau burnout memang kerap menjadi masalah bagi pejabat publik yang memiliki jadwal rapat, kunjungan, dan acara seremonial tanpa jeda. Di Indonesia, beberapa pejabat sebelumnya juga pernah mengalami gangguan kesehatan serupa akibat tekanan pekerjaan. Kasus Farhan menambah daftar panjang pentingnya manajemen kesehatan bagi para pemimpin daerah.
Hingga saat ini, publik masih menanti kepastian diagnosis dari tim dokter. Apakah kelelahan semata atau ada faktor lain yang memperburuk kondisinya? Yang jelas, pemulihan Farhan menjadi prioritas utama, dan masyarakat Kota Bandung berharap wali kotanya dapat segera kembali memimpin dengan prima.



