Swiss Kehilangan Manzambi Jelang Laga Hidup Mati Lawan Argentina
Baca dalam 60 detik
- Swiss dipastikan tanpa pencetak gol terbanyak mereka, Johan Manzambi, saat berhadapan dengan Argentina di perempat final Piala Dunia 2026.
- Manzambi gagal pulih dari cedera lutut yang juga membuatnya absen saat mengalahkan Kolombia di babak 16 besar.
- Kapten Granit Xhaka menepis anggapan timnya terlalu terobsesi dengan Lionel Messi dan menegaskan fokus pada kemenangan.

Swiss harus menghadapi Argentina di perempat final Piala Dunia 2026 tanpa mesin gol mereka, Johan Manzambi, setelah sang gelandang gagal pulih dari cedera lutut. Pelatih Murat Yakin mengonfirmasi pada Jumat (10/7) bahwa Manzambi tidak akan tampil dalam laga yang akan digelar di Kansas City, Missouri, Sabtu (11/7) waktu setempat.
Manzambi, yang mengoleksi tiga gol dan dua assist selama turnamen, juga absen saat Swiss menyingkirkan Kolombia lewat adu penalti di babak 16 besar. Yakin mengakui timnya sudah berusaha maksimal untuk memulihkan kondisinya, tetapi hasilnya nihil. “Kami mencoba segalanya, tetapi sayangnya dia tidak bisa bermain besok,” ujar Yakin dalam konferensi pers. Ia menambahkan bahwa Manzambi masih merasakan nyeri hebat dan kehilangan momen terbaiknya di turnamen ini.
Kehilangan Manzambi menjadi pukulan berat bagi Swiss yang untuk pertama kalinya dalam 72 tahun terakhir menembus perempat final Piala Dunia. Namun, kapten Granit Xhaka menolak anggapan bahwa timnya akan terintimidasi oleh kehadiran Lionel Messi. Pernyataan itu muncul setelah mantan kiper Jerman, Jens Lehmann, menyebut pemain Swiss tampak “terlalu hormat” kepada Messi dan hanya ingin bertukar kostum dengannya. “Kami tidak bisa mengontrol apa yang orang katakan. Satu-satunya hal yang bisa kami lakukan adalah tampil dan menunjukkan kemampuan di lapangan,” tegas Xhaka.
Yakin sendiri punya strategi khusus untuk meredam pergerakan Messi: merebut penguasaan bola. “Saat kami memegang bola, dia tidak bisa banyak bergerak. Kami akan bermain sebagai satu kesatuan, menekan tinggi, dan tidak memberinya ruang,” jelas Yakin. Swiss juga tidak khawatir dengan cuaca panas yang diprediksi terjadi di Kansas City, yang mungkin menguntungkan Argentina karena sudah bermarkas di kota itu sejak awal turnamen. “Saat Anda berada di perempat final, Anda tidak peduli dengan cuaca. Tidak ada alasan,” kata Xhaka.
Bagi Xhaka, laga ini menjadi momen puncak kariernya bersama tim nasional. Gelandang Sunderland itu mengaku bangga bisa membawa Swiss ke fase ini setelah 72 tahun penantian. Namun, ia tak ingin berpuas diri. “Saya tidak hanya bicara. Saya ingin melangkah lebih jauh. Kami sangat dekat dengan akhir, dan saya lapar akan kemenangan. Kini saatnya membuktikan seberapa besar keinginan kami di lapangan,” ujarnya. Xhaka juga menegaskan bahwa pertandingan ini bukanlah balas dendam atas kekalahan 0-1 dari Argentina di babak 16 besar Piala Dunia 2014. “Ini laga yang benar-benar berbeda. Kami di perempat final dan ingin menang. Itu tujuan utama kami.”
Dengan absennya Manzambi, Swiss harus mengandalkan pemain lain untuk memproduksi gol. Sementara Argentina, yang diperkuat Messi, jelas difavoritkan. Namun, semangat juang Swiss yang tinggi dan keyakinan Xhaka bahwa mimpi bisa terwujud dengan kerja keras membuat laga ini tetap menarik untuk dinantikan. Akankah Swiss mampu menciptakan kejutan besar, atau Argentina akan melaju mulus ke semifinal?



