Kesalahan Kiper Muda Hentikan Langkah Belgia, Generasi Emas Ucapkan Selamat Tinggal
Baca dalam 60 detik
- Kegagalan Senne Lammens mengamankan bola pada menit ke-88 memastikan kemenangan Spanyol 2-1 dan mengakhiri perjalanan Belgia di perempat final Piala Dunia 2026.
- Kekalahan ini kemungkinan menjadi penampilan terakhir bagi Thibaut Courtois, Kevin de Bruyne, Romelu Lukaku, dan Axel Witsel, yang menjadi tulang punggung tim sejak 2014.
- Meski generasi emas pamit, Belgia memiliki fondasi pemain muda seperti Charles de Ketelaere dan Amadou Onana yang siap membawa tim ke era baru.

Sebuah blunder kiper muda di menit-menit akhir menghancurkan mimpi Belgia untuk meraih gelar Piala Dunia pertama mereka, sekaligus menandai akhir dari perjalanan generasi emas yang telah mendominasi sepak bola Eropa selama satu dekade. Kekalahan 2-1 dari Spanyol di perempat final Piala Dunia 2026 memastikan bahwa Thibaut Courtois, Kevin de Bruyne, Romelu Lukaku, dan Axel Witsel—empat pilar yang tersisa dari skuat emas 2014—harus mengubur ambisi terakhir mereka.
Pertandingan yang berlangsung sengit di Estadio Metropolitano, Madrid, berubah drastis pada menit ke-88. Kiper pengganti Belgia, Senne Lammens (24 tahun), yang masuk menggantikan Courtois yang cedera, gagal menangkap tembakan jarak jauh pemain Spanyol. Bola muntah langsung disambar oleh Mikel Merino yang dengan tenang menceploskannya ke gawang kosong. “Lammens tidak mendapat pujian apa pun. Dia tidak melakukan kesalahan seperti itu di Manchester United musim lalu, tapi tekanan di sini berbeda,” komentar mantan pemain internasional Inggris, Stephen Warnock, di BBC Radio 5 Live.
Kekalahan ini menjadi akhir pahit bagi generasi yang sempat digadang-gadang sebagai “generasi emas” Belgia. Sejak 2014, tim berjuluk Red Devils itu selalu lolos ke perempat final atau lebih baik di setiap turnamen besar, termasuk finis ketiga di Piala Dunia 2018. Namun, kritik terus menghantui mereka karena gagal mempersembahkan trofi. Jurnalis sepak bola Spanyol, Guillem Balague, menilai ekspektasi yang terlalu tinggi tidak realistis untuk negara dengan populasi kurang dari 12 juta jiwa. “Untuk disebut generasi emas, Anda harus memenangkan emas. Tapi melihat pencapaian mereka—peringkat ketiga di Piala Dunia, perempat final Euro—saya rasa itu sudah lebih dari cukup,” ujarnya.
Pelatih Belgia, Rudi Garcia, mengakui bahwa ia berharap para pemain veteran bisa mendapatkan perpisahan yang lebih manis. “Saya kecewa untuk mereka yang mungkin tidak akan kembali ke tim nasional. Saya ingin membawa mereka sejauh mungkin, tapi terlalu banyak hal yang tidak berjalan sesuai rencana,” katanya seusai laga. Garcia juga menyoroti cedera yang menimpa Courtois dan kapten Youri Tielemans, serta kehilangan De Bruyne yang harus ditarik keluar karena kelelahan.
Meski generasi emas pamit, Belgia memiliki alasan untuk optimis. Sebanyak 13 pemain dalam skuat berusia 25 tahun ke bawah, termasuk Charles de Ketelaere yang tampil gemilang dengan tiga gol di turnamen ini. Amadou Onana dari Aston Villa juga menunjukkan performa impresif sebelum cedera lutut parah. “Para pemain muda akan belajar dari pengalaman ini. Kami bisa bangga dengan perjuangan kami,” tambah Garcia.
Bagi Indonesia, perjalanan Belgia ini menjadi pelajaran tentang pentingnya regenerasi dan manajemen ekspektasi. Di tengah hiruk-pikuk sepak bola nasional yang juga tengah membangun tim muda, kisah Belgia mengingatkan bahwa kesuksesan tidak selalu diukur dari trofi, tetapi juga dari konsistensi dan kemampuan melahirkan bakat baru. Pertanyaan besarnya: mampukah generasi penerus Belgia—atau Indonesia—menuliskan sejarah mereka sendiri tanpa bayang-bayang masa lalu?



