Djokovic di Persimpangan: Usia dan Rekor yang Tak Lagi Berpihak
Baca dalam 60 detik
- Novak Djokovic tersingkir di semifinal Wimbledon setelah dikalahkan Jannik Sinner tiga set langsung, mengubur asa meraih gelar Grand Slam ke-25.
- Pada usia 39 tahun, Djokovic masih mampu bersaing di level tinggi, tetapi kecepatan dan ketahanan fisik mulai menjadi kendala melawan pemain yang lebih muda.
- Kekalahan ini memicu spekulasi bahwa peluang terakhir Djokovic untuk menambah rekor Grand Slam mungkin telah berlalu, meski ia bertekad kembali tahun depan.

Novak Djokovic harus mengakui keunggulan Jannik Sinner dalam semifinal Wimbledon, Kamis (12/7), setelah petenis Italia peringkat satu dunia itu menang straight set 6-3, 6-4, 7-6. Kekalahan ini tidak hanya menghentikan langkah Djokovic menuju final, tetapi juga mempertanyakan apakah petenis Serbia berusia 39 tahun itu masih memiliki peluang realistis untuk menambah koleksi Grand Slam-nya.
Djokovic, yang telah memenangi 24 gelar Grand Slam—terbanyak sepanjang masa—mengakui bahwa performanya saat ini "baik, tetapi tidak cukup baik." Ia menyebut dirinya "diberkati dan terkutuk" karena terbiasa dengan standar tertinggi. "Saya selalu memiliki ekspektasi tertinggi terhadap diri sendiri," ujarnya dalam konferensi pers usai pertandingan.
Pertandingan ini menjadi ulangan semifinal tahun lalu, saat Djokovic masih bermain dengan cedera. Kali ini tanpa cedera, tetapi usia dan akumulasi waktu bermain—16 jam 32 menit di lapangan sepanjang turnamen—menjadi faktor yang tak terhindarkan. Sinner, yang baru berusia 22 tahun, tampil superior dengan servis akurat dan pergerakan lincah yang mengingatkan pada gaya Djokovic sendiri.
Bagi publik tenis Indonesia, kekalahan ini menjadi pengingat bahwa usia adalah lawan yang tak terkalahkan. Djokovic, yang selama dua dekade mendominasi bersama Roger Federer dan Rafael Nadal, kini menghadapi kenyataan pahit: generasi baru seperti Sinner dan Carlos Alcaraz (yang tahun ini absen) telah mengambil alih. "Saya tidak berpikir secara realistis dia masih memiliki satu Grand Slam lagi di dalam dirinya. Sayangnya, saya pikir ini adalah kesempatan terakhirnya," ujar Pat Cash, juara Wimbledon 1987, kepada BBC.
Meski demikian, Djokovic menunjukkan ketenangan yang berbeda tahun ini. Ia terlihat lebih rileks, berlatih di lapangan luar bersama putranya, dan bercanda dengan ball girl. Yang menarik, sorak-sorai penonton di Centre Court kali ini lebih berpihak padanya—sebuah perubahan dari masa lalu saat ia kerap menjadi "penjahat" yang mengganggu rivalitas Federer-Nadal. "Kami telah menyaksikan pria ini selama lebih dari dua dekade, dan berapa kali kami mendengar seluruh penonton meneriakkan 'Nole, Nole'?" komentar Andre Agassi, mantan petenis nomor satu dunia. "Dia sekarang mendapatkan rasa hormat yang layak diterimanya."
Djokovic sendiri belum menyerah. Ia berjanji akan kembali ke Wimbledon setidaknya sekali lagi. "Saya tidak punya tekanan, tidak ada yang memaksa saya bermain. Saya melakukannya karena benar-benar ingin dan karena saya masih bisa bermain sebagai pemain lima besar," katanya. Namun, dengan usia yang terus bertambah dan persaingan yang semakin ketat, pertanyaan besarnya: mampukah Djokovic membalikkan waktu dan menulis babak akhir yang gemilang, atau justru akan menjadi catatan kaki dalam sejarah tenis?



