McIlroy Pimpin Skotlandia Terbuka, Scheffler Gagal Lolos Potong
Baca dalam 60 detik
- Rory McIlroy berbagi puncak klasemen Skotlandia Terbuka bersama Jordan Smith dan Tom Kim dengan skor sembilan-under, setelah putaran kedua di The Renaissance Club.
- Scottie Scheffler, peringkat satu dunia, mencatatkan skor dua-over dan gagal lolos cut untuk pertama kalinya dalam 78 turnamen, mengakhiri rekor hampir empat tahun.
- Kegagalan Scheffler menjadi kejutan besar jelang British Open pekan depan, di mana ia akan mempertahankan gelar juara bertahan.

Rory McIlroy memimpin klasemen Skotlandia Terbuka setelah putaran kedua, Jumat (10/7), dengan catatan sembilan-under par, sementara Scottie Scheffler harus menerima kenyataan pahit: untuk pertama kalinya dalam hampir empat tahun ia gagal melewati batas potong turnamen PGA Tour.
McIlroy menorehkan lima birdie dan satu bogey untuk skor 66, menyamai Jordan Smith (63) dan Tom Kim (66) di puncak papan peringkat. Pebalap asal Irlandia Utara itu mengaku nyaman dengan kondisi lapangan The Renaissance Club di North Berwick. "Saya melihat garis putt dengan jelas. Bacaan di sini lebih mudah dibanding lapangan links lain yang lebih rumit," ujarnya usai menuntaskan sembilan hole pertama dengan 31 pukulan.
Jordan Smith, yang tengah berusaha menjadi rookie ketiga musim ini yang menjuarai turnamen PGA Tour, tampil memukau dengan pukulan akurat dan putter panas. Ia mencatat skor terendah pekan ini sebelum akhirnya disusul Kim dan McIlroy. Mantan juara AS Terbuka Matt Fitzpatrick dan Min Woo Lee tertinggal satu pukulan di posisi keempat, sementara Chris Gotterup—yang berusaha menjadi pemain pertama yang mempertahankan gelar di Skotlandia Terbuka—dan Robert MacIntyre berada dalam kelompok tujuh pegolf yang tertinggal dua pukulan.
Kejutan terbesar justru datang dari petinggi peringkat dunia, Scottie Scheffler. Ia mencatat skor dua-over 72 dan gagal masuk cut dengan selisih dua pukulan. Ini adalah kali kedua dalam empat penampilannya di The Renaissance Club ia gagal lolos. "Saya benar-benar ingin tampil baik pekan ini. Saya merasa bisa bermain bagus di lapangan ini, tapi entah kenapa tidak terjadi," kata Scheffler. Ia menduga faktor jet-lag, adaptasi dengan gaya golf dan jenis rumput baru, atau mungkin lapangan ini tidak cocok dengan matanya.
Kegagalan ini menjadi pukulan telak bagi Scheffler yang akan mempertahankan gelar British Open pekan depan di Royal Birkdale. Dengan absennya ia dari akhir pekan Skotlandia Terbuka, waktu persiapannya untuk major terakhir tahun ini menjadi lebih singkat dari perkiraan. Bagi penggemar golf di Indonesia, momen ini mengingatkan bahwa bahkan pemain terbaik pun bisa mengalami masa sulit—sebuah pelajaran tentang ketidakpastian dalam olahraga.
Pertanyaan kini mengemuka: mampukah Scheffler bangkit di British Open, atau justru tekanan sebagai juara bertahan akan semakin berat? Turnamen pekan depan akan menjadi ujian sesungguhnya bagi ketangguhan mentalnya.



