Malaysia-Thailand Resolusi Sengketa Perikanan, Target Dagang US$30 Miliar
Baca dalam 60 detik
- Malaysia dan Thailand sepakat mencabut hambatan perikanan yang sempat memicu ketegangan, dengan MoU kerja sama pertanian berlaku dalam sepekan.
- Kedua negara menargetkan perdagangan bilateral US$30 miliar pada 2027, didorong oleh pembukaan zona ekonomi khusus perbatasan dan konektivitas listrik ASEAN.
- Kunjungan Perdana Menteri Thailand Anutin Charnvirakul ke Malaysia menandai komitmen baru dalam penanganan banjir lintas batas dan kejahatan transnasional.

Malaysia dan Thailand berhasil mengakhiri perselisihan di sektor perikanan yang sempat mengancam hubungan dagang kedua negara. Perdana Menteri Malaysia Anwar Ibrahim mengumumkan bahwa nota kesepahaman (MoU) kerja sama pertanian yang semula direncanakan berlaku dalam sebulan, kini dipercepat menjadi hanya sepekan setelah pertemuan bilateral dengan mitranya dari Thailand, Anutin Charnvirakul, di Putrajaya.
Kesepakatan ini menjadi angin segar bagi para nelayan dan eksportir di kedua sisi perbatasan. Sebelumnya, Malaysia memberlakukan aturan ketat sejak 1 Juni 2026 terhadap impor ikan kakap putih dan lima spesies udang asal Thailand, yang berpotensi memicu kelebihan pasokan di pasar domestik. Dengan dicabutnya hambatan tersebut, arus perdagangan komoditas perikanan diprediksi kembali normal dalam waktu dekat.
MoU yang ditandatangani oleh Menteri Pertanian dan Ketahanan Pangan Malaysia Mohamad Sabu serta Menteri Pertanian dan Koperasi Thailand Suriya Jungrungreangkit mencakup kerja sama di bidang tanaman pangan, peternakan, perikanan, fasilitasi perdagangan, pemasaran produk pertanian, penelitian dan pengembangan, serta peningkatan kapasitas sumber daya manusia. Langkah ini dinilai strategis mengingat kedua negara merupakan produsen utama komoditas pertanian di kawasan ASEAN.
Selain sektor pertanian, kedua pemimpin juga menyepakati sejumlah inisiatif strategis lainnya. Anwar dan Anutin akan meresmikan pembukaan jalan yang menghubungkan pos pemeriksaan imigrasi, bea cukai, dan karantina di Bukit Kayu Hitam, Malaysia, dengan kompleks CIQ di Sadao, Thailand. Anwar menilai kunjungan Anutin ke kawasan perbatasan yang relatif terpencil menunjukkan komitmen pribadi untuk mempererat hubungan bilateral.
Dalam bidang pengendalian banjir, kedua negara sepakat meningkatkan kolaborasi antarotoritas pengelolaan air di sepanjang cekungan Sungai Golok. Langkah ini mencakup pemantauan tinggi muka air yang lebih ketat dan penguatan sistem peringatan dini untuk mengurangi risiko bencana di wilayah perbatasan. Di sisi keamanan, dibentuk kelompok kerja bersama untuk mengoordinasikan patroli dan penghalang keamanan di sepanjang sungai yang kerap menjadi jalur kejahatan transnasional.
Dari segi perdagangan, Anwar menekankan pentingnya kerja sama ekonomi sebagai fondasi hubungan bilateral. โPersahabatan yang kuat dan kolaborasi di semua bidang, termasuk pariwisata, harus dimulai dari masalah fundamental ekonomi dan perdagangan,โ ujarnya. Anutin optimistis target perdagangan US$30 miliar pada 2027 akan tercapai lebih cepat dari jadwal, didukung oleh proyek-proyek konektivitas seperti ASEAN Power Grid dan pengembangan zona ekonomi khusus di perbatasan Rantau Panjang-Sungai Golok.
Dalam unggahan di Facebook, Anwar menyebutkan bahwa pertemuan empat mata sebelum sesi bilateral menghasilkan komitmen untuk mempercepat implementasi proyek interkonektivitas, termasuk jaringan listrik ASEAN. Anutin juga mengapresiasi peran aktif Malaysia dalam memfasilitasi dialog dan upaya perdamaian di kawasan, termasuk dalam proses perdamaian antara Thailand dan Kamboja.
Ke depan, keberhasilan implementasi MoU dan proyek-proyek bersama ini akan menjadi ujian bagi komitmen kedua negara dalam mewujudkan integrasi ekonomi ASEAN yang lebih dalam. Pertanyaannya, akankah percepatan kerja sama ini mampu mendorong realisasi target perdagangan yang ambisius di tengah dinamika geopolitik global?



