Ketegangan AS-Iran dan Sinyal Hawkish The Fed Guncang Pasar Global, IHSG Berpotensi Tertekan
Baca dalam 60 detik
- Pasar saham Asia dan AS ditutup bervariasi setelah risalah The Fed mengisyaratkan kenaikan suku bunga, sementara konflik AS-Iran menambah ketidakpastian.
- Sektor teknologi dan tambang menjadi penopang utama di Wall Street, dengan Micron Technology melonjak usai mengumumkan investasi besar untuk AI.
- Bursa Eropa terbelah: indeks Euro Stoxx 50 menguat, namun FTSE 100 tertekan oleh anjloknya saham AstraZeneca akibat gagal uji klinis obat jantung.

Pasar keuangan global bergerak mixed pada akhir pekan lalu, di tengah tekanan dari eskalasi ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran serta sinyal hawkish dari risalah pertemuan Federal Reserve yang mengindikasikan potensi kenaikan suku bunga lanjutan. Kondisi ini menciptakan ketidakpastian baru bagi investor, khususnya di negara berkembang seperti Indonesia, yang rentan terhadap arus modal asing dan fluktuasi nilai tukar.
Di Asia, indeks Nikkei 225 Tokyo melesat 1,79 persen, sementara Hang Seng Hong Kong naik 1,86 persen, didorong aksi beli selektif di saham teknologi dan properti. Menurut analis First National Bank (FNB), sentimen risiko tetap terjaga meskipun ketegangan geopolitik meningkat. Sementara itu, ASX 200 Australia menguat tipis 0,28 persen berkat reli saham logam dan pertambangan.
Wall Street menutup perdagangan dengan catatan positif pada Kamis (15/6). Nasdaq melonjak 1,30 persen, S&P 500 naik 0,81 persen, dan Dow Jones Industrial Average bertambah 0,27 persen. Reli saham semikonduktor menjadi motor utama, dipimpin oleh Micron Technology yang meroket 4,52 persen setelah mengumumkan rencana meningkatkan belanja modal untuk pabrik baru di AS menjadi 250 miliar dolar AS guna memenuhi permintaan kecerdasan buatan (AI).
Di Eropa, pergerakan bursa terbelah. Euro Stoxx 50 menguat 1,28 persen, ditopang rebound saham semikonduktor dan pemulihan sektor pertambangan. Namun, FTSE 100 London justru melemah 0,16 persen setelah saham AstraZeneca ambruk 7,3 persen akibat kegagalan uji klinis tahap akhir obat jantung. Investor juga menanti data inflasi final dari Jerman dan Prancis.
Bursa Afrika Selatan (JSE) diperkirakan akan dibuka flat-to-positive, mengikuti momentum positif Asia. Indeks ASX 300 Metals and Mining yang melonjak 2,55 persen diproyeksikan mendukung saham-saham sumber daya di JSE, terutama platinum yang menguat. Namun, emas spot sedikit melemah, membatasi prospek emiten tambang emas. Saham Tencent di Hong Kong turun 1,79 persen, berpotensi membebani Naspers dan Prosus yang memiliki eksposur besar terhadap raksasa teknologi China tersebut.
Dari sisi domestik, data produksi manufaktur Indonesia periode Mei menunjukkan kontraksi 4,3 persen year-on-year, lebih buruk dari ekspektasi konsensus. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) sebelumnya ditutup menguat seiring reli harga emas dan penurunan harga minyak, namun tekanan dari eksternal diperkirakan akan membayangi perdagangan hari ini. Sektor keuangan dan infrastruktur menjadi penopang utama, sementara saham teknologi seperti Naspers dan Prosus justru tertekan.
"Pasar masih mencerna dampak dari ketegangan AS-Iran yang belum sepenuhnya dihargai (unpriced risk), sementara sinyal hawkish The Fed menambah kekhawatiran likuiditas global," ujar analis pasar modal.
Ke depan, investor akan mencermati data inflasi AS dan pernyataan pejabat The Fed untuk mengukur arah kebijakan moneter. Di sisi lain, perkembangan konflik AS-Iran dan dampaknya terhadap pasokan minyak global tetap menjadi variabel yang sulit diprediksi. Bagi Indonesia, kombinasi suku bunga tinggi dan ketidakpastian geopolitik berpotensi memperkuat tekanan pada rupiah dan mendorong outflow modal asing dari pasar saham dan obligasi.



