Emas Tetap Jadi Andalan: Laba ANTM Melonjak 58% di Tengah Gejolak Global
Baca dalam 60 detik
- PT ANTAM mencatat laba Rp3,66 triliun pada kuartal I-2026, didorong harga emas dunia yang masih tinggi di kisaran US$4.108โUS$4.134 per ons.
- Perseroan menandatangani perjanjian pembelian emas dua tahun dengan volume 6 metrik ton per tahun bersama BSI dan PETS untuk memperkuat pasokan domestik.
- Langkah ini menegaskan posisi ANTM sebagai penghubung tambang ke pasar, sekaligus menjaga kedaulatan emas nasional di tengah ketidakpastian global.

Bisnis emas masih menjadi motor utama pertumbuhan PT ANTAM (Persero) Tbk (ANTM) sepanjang tahun ini, seiring harga logam mulia yang bertahan di level tinggi meski mulai menunjukkan tanda-tanda koreksi. Pada perdagangan Jumat (10/7/2026), harga emas dunia bergerak di rentang US$4.108โUS$4.134 per troy ons, didorong oleh eskalasi ketegangan geopolitik dan perlambatan ekonomi global yang memicu lonjakan permintaan emas fisik dan investasi.
Kinerja positif itu tercermin dari laporan keuangan ANTM hingga kuartal I-2026. Perseroan membukukan laba periode berjalan sebesar Rp3,66 triliun, melonjak 58% dibandingkan periode yang sama tahun lalu yang hanya Rp2,32 triliun. Kenaikan ini tidak lepas dari tingginya minat masyarakat terhadap emas sebagai aset safe haven di tengah ketidakpastian pasar keuangan global.
Untuk menjaga momentum pertumbuhan, ANTM terus memperkuat rantai pasok emas nasional. Beberapa bulan lalu, perseroan menandatangani Gold Sales and Purchase Agreement (GSPA) dengan PT Bumi Suksesindo (BSI) dan PT Puncak Emas Tani Sejahtera (PETS). Dalam perjanjian yang berlaku dua tahun tersebut, ANTM bertindak sebagai pembeli dengan volume transaksi mencapai 6 metrik ton emas per tahun. Langkah ini dinilai strategis untuk memastikan kesinambungan bahan baku industri emas domestik sekaligus memperkuat kedaulatan emas Indonesia.
Direktur Komersial ANTM, Handi Sutanto, menegaskan bahwa prioritas utama kerja sama ini adalah kepentingan nasional. Menurutnya, emas bukan sekadar komoditas, melainkan bagian dari kedaulatan bangsa. "Peran ANTAM adalah connecting mines to market, menghubungkan hasil galian tambang bumi Indonesia hingga menjadi emas murni yang siap dimiliki masyarakat," ujarnya. Handi menambahkan, "Dengan perjanjian ini, kami memperkuat visi emas ANTAM sebagai emas yang bersumber dari tambang Indonesia, dimurnikan di satu-satunya dan tertua refinery bersertifikasi LBMA di Indonesia, lalu dipersembahkan kembali kepada bangsa sebagai emas yang tahan uji dan diwariskan lintas generasi."
Bagi investor dan pelaku pasar di Indonesia, strategi ANTM ini memberikan sinyal positif. Di tengah volatilitas harga emas global, kemampuan ANTM mengamankan pasokan domestik dan mencatatkan pertumbuhan laba dua digit menunjukkan fundamental yang solid. Namun, pertanyaan yang mengemuka adalah seberapa lama harga emas dapat bertahan di level saat ini, mengingat potensi normalisasi kebijakan moneter di negara maju dan meredanya ketegangan geopolitik. Jika harga emas turun signifikan, ANTM perlu memiliki diversifikasi pendapatan di luar emas untuk menjaga pertumbuhan jangka panjang.



