Lapangan Aspal di Maine: Sepak Bola Menjadi Pelarian dan Harapan bagi Imigran di Tengah Tekanan Deportasi
Baca dalam 60 detik
- Komunitas imigran dan pengungsi di Kennedy Park, Portland, Maine, menjadikan sepak bola sebagai alat integrasi dan penyembuhan di tengah kebijakan imigrasi AS yang ketat.
- Lebih dari 400.000 orang ditangkap ICE sejak Januari 2025; komunitas sepak bola setempat merespons dengan mengirimkan 70 paket sembako dan membebaskan satu pemain dari tahanan.
- Dengan Piala Dunia 2026 di AS, para pemain imigran bermimpi tampil di panggung global, menunjukkan bahwa sepak bola mampu melampaui batas negara dan bahasa.

Di sebuah lapangan aspal di Kennedy Park, Portland, Maine, sekelompok imigran dan pengungsi dari berbagai negara menemukan lebih dari sekadar olahraga: sepak bola menjadi jembatan untuk membangun kembali kehidupan di tengah tekanan kebijakan imigrasi Amerika Serikat yang semakin keras. Bagi mereka, lapangan ini bukan hanya tempat bermain, melainkan ruang aman untuk melawan rasa takut dan isolasi.
George Lusolo, 19 tahun, tiba dari Republik Demokratik Kongo pada 2018 sebagai pencari suaka. Setelah melewati penahanan di Texas dan tempat penampungan di New York, ia akhirnya menetap di Portland. Tanpa kemampuan bahasa Inggris dan tanpa teman, sepak bola menjadi terapi. "Saat bermain dengan orang-orang yang berasal dari tempat yang sama, dengan perjuangan yang sama, rasanya sangat menyenangkan," ujarnya. Ia bergabung dengan pertandingan informal yang dimulai pada 2021 dan kini telah berkembang menjadi komunitas lintas negara.
Namun, ikatan yang terbangun di Kennedy Park diuji oleh kebijakan keras pemerintahan Donald Trump. Lembaga Imigrasi dan Bea Cukai AS (ICE) melakukan penggerebekan besar-besaran di Maine tahun lalu. Menurut Migration Policy Institute, setidaknya 400.000 orang telah ditangkap sejak Januari 2025. Meski pemerintah AS menyatakan sasaran adalah ancaman keamanan, kelompok hak asasi menilai operasi ini menjerat warga tak bersalah. Anthony Fiori, koordinator pertandingan, mengatakan, "Pemain dan keluarga mereka takut keluar rumah. Siswa bolos sekolah berminggu-minggu."
Salah satu insiden paling menonjol adalah penahanan Joel Andre, 17 tahun, pemain sepak bola berbakat di Maine, bersama keluarganya. Keluarga Andre awalnya mengajukan suaka di AS, ditolak, lalu pergi ke Kanada tanpa mengetahui perjanjian bilateral yang hanya mengizinkan satu negara tujuan. Akibatnya, mereka ditahan ICE. Setelah empat bulan, kampanye yang digerakkan komunitas Kennedy Park berhasil membebaskan mereka. Namun, pengacara Todd Pomerleau mengungkapkan, "Joel tidak akan pernah sama lagi. Mereka butuh konseling, agama, teman, dan keluarga."
Bagi para imigran, bermain sepak bola di tempat umum juga menjadi cara untuk mengubah persepsi warga lokal. Deji Kuribanza, 18 tahun, imigran Kongo lainnya, berkata, "Banyak orang Amerika yang melihat kami dari pinggir jalan, melihat imigran yang bahagia dan bersenang-senang. Itu melukiskan gambaran berbeda tentang imigran di benak mereka." Anthony Fiori, yang keluarganya telah tinggal di Maine selama sembilan generasi, menambahkan bahwa tempat seperti Kennedy Park memungkinkan orang dari latar belakang berbeda untuk berbaur dan berteman, terutama di negara bagian yang relatif homogen.
Dengan Piala Dunia 2026 yang akan digelar di AS, mimpi para pemain Kennedy Park semakin membesar. Deji berkata, "Ada api dalam diriku untuk menjadi bagian dari itu. Itu salah satu mimpiku: berada di panggung dunia." George juga bercita-cita bermain profesional untuk DR Kongo, yang baru saja lolos ke babak 32 besar Piala Dunia untuk pertama kalinya dalam lebih dari setengah abad. Bagi mereka, sepak bola tetaplah samaโbaik di lapangan aspal Kennedy Park maupun di stadion Piala Dunia. Pertanyaannya kini: akankah kebijakan imigrasi yang ketat membiarkan mimpi-mimpi itu terus hidup?



