Maldini Batal ke FIGC? Tiga Nama Alternatif Disiapkan untuk Direktur Teknis Italia
Baca dalam 60 detik
- Paolo Maldini diperkirakan menolak tawaran menjadi direktur teknis Timnas Italia karena alasan pribadi.
- FIGC telah menyiapkan tiga kandidat pengganti: Demetrio Albertini, Gianfranco Zola, dan Beppe Bergomi.
- Keputusan akhir Maldini akan diumumkan hari ini setelah pertemuan dengan Presiden FIGC Giovanni Malagò.

Rencana Federasi Sepak Bola Italia (FIGC) untuk memboyong Paolo Maldini sebagai direktur teknis nasional terancam gagal. Legenda AC Milan dan Timnas Italia itu dikabarkan akan menolak tawaran yang telah diberikan, memaksa Presiden FIGC Giovanni Malagò menyiapkan tiga nama alternatif, termasuk Gianfranco Zola.
Menurut laporan La Repubblica, pertemuan terakhir antara Maldini dan Malagò dijadwalkan berlangsung hari ini. Namun, sumber internal menyebut prospek kesepakatan semakin meredup. Sebelumnya, Malagò telah memberikan wewenang luar biasa kepada Maldini, termasuk hak untuk memilih pelatih kepala baru. Meski demikian, faktor personal disebut menjadi penghalang utama.
Posisi direktur teknis mengharuskan Maldini meninggalkan Milan dan tinggal di Roma atau pusat pelatihan Coverciano di Florence. Hal ini dinilai akan mengganggu kehidupan pribadinya. “Dia tidak ingin meninggalkan keluarga dan rutinitasnya di Milan,” tulis La Repubblica, mengutip sumber dekat mantan bek berusia 56 tahun itu.
Jika Maldini benar-benar menolak, Demetrio Albertini disebut sebagai prioritas utama. Mantan gelandang AC Milan dan FIGC itu dianggap memiliki pengalaman administratif yang mumpuni. Namun, nama Gianfranco Zola dan Beppe Bergomi juga masuk dalam daftar pertimbangan. Zola, yang kini berusia 58 tahun, pernah menangani tim nasional junior Italia dan klub-klub Inggris. Sementara Bergomi, legenda Inter Milan, lebih dikenal sebagai komentator televisi.
Keputusan ini krusial bagi masa depan sepak bola Italia. Setelah gagal lolos ke Piala Dunia 2022, FIGC tengah berupaya merombak struktur teknis. Peran direktur teknis diharapkan dapat menyelaraskan pembinaan usia muda dengan tim senior. “Malagò ingin figur yang bisa membawa perubahan budaya, bukan sekadar manajer,” ujar analis sepak bola Italia, Luca Bianchi.
Bagi Indonesia, dinamika ini menjadi pelajaran tentang pentingnya keseimbangan antara ambisi organisasi dan kesiapan personal. Federasi sepak bola nasional kerap menghadapi dilema serupa saat merekrut figur publik. Kasus Maldini menunjukkan bahwa tawaran sebesar apa pun belum tentu cukup jika tidak sesuai dengan prioritas hidup kandidat.
Pertemuan hari ini akan menjadi penentu. Jika Maldini mundur, FIGC harus segera mengumumkan pengganti untuk menjaga stabilitas. Pertanyaannya, mampukah Albertini, Zola, atau Bergomi membawa angin segar yang diharapkan?



