Optimisme Boy Thohir dan Anindya Bakrie: IHSG Bisa Kembali ke 9.000 dalam Tiga Tahun
Baca dalam 60 detik
- Garibaldi 'Boy' Thohir dan Anindya Bakrie meyakini IHSG berpotensi menembus level 9.000 dalam tiga tahun ke depan, didorong fundamental ekonomi dan emiten yang solid.
- Keduanya menilai persepsi negatif pasar saat ini tidak sejalan dengan data fundamental, seperti pertumbuhan ekonomi 5% dan inflasi rendah 1-2% selama tujuh tahun terakhir.
- Untuk merealisasikan target tersebut, diperlukan sinergi pemerintah dan emiten dalam memperkuat komunikasi serta menjaga stabilitas makroekonomi.

Dua pengusaha papan atas, Garibaldi 'Boy' Thohir dan Anindya Bakrie, menyuarakan keyakinan bahwa Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dapat kembali ke level 9.000 dalam waktu dekat, meski saat ini indeks masih terpuruk di kisaran 5.900. Optimisme ini tidak muncul begitu saja, melainkan didasari oleh data fundamental yang dinilai masih kokoh di tengah gejolak pasar global.
Boy Thohir, yang juga dikenal sebagai pemilik grup Adaro, menegaskan bahwa penilaian investor seharusnya tidak hanya terpaku pada pergerakan harga jangka pendek. Menurutnya, banyak emiten di Bursa Efek Indonesia (BEI) yang memiliki kualitas bisnis baik, namun tertutup oleh persepsi negatif yang meluas. "Saya sangat optimis IHSG bisa mencapai 9.000. Track record menunjukkan saham pernah naik berkali-kali lipat. Tentu butuh waktu, tapi Indonesia masih lebih baik dibanding negara Asia Tenggara lain," ujarnya usai menghadiri IPO RANS di BEI, Jumat (10/7/2026).
Senada dengan Boy, Ketua Umum Kadin Anindya Bakrie menekankan pentingnya melihat data objektif. Ia merujuk pada rata-rata pertumbuhan ekonomi 5% selama tujuh tahun terakhir, inflasi yang terjaga di kisaran 1-2%, serta penambahan 800 ribu lapangan kerja pada bulan pertama tahun ini. "Itu pegangan pertama. Kedua, aktivitas investasi di 38 provinsi masih berlangsung. Persepsi negatif akan berubah jika fundamental konsisten," jelas Anindya.
Kedua tokoh ini sepakat bahwa tantangan utama saat ini bukan pada fundamental, melainkan pada persepsi pasar yang terdistorsi oleh sentimen global. Boy Thohir menyoroti perlunya komunikasi yang lebih intensif kepada investor ritel agar mereka memahami kondisi riil emiten. Sementara Anindya menambahkan bahwa fluktuasi pasar adalah hal wajar, dan arus modal akan kembali jika pemerintah mampu menjaga pertumbuhan, inflasi, konsumsi, serta investasi asing dan domestik.
Bagi investor Indonesia, pernyataan ini memberikan secercah harapan di tengah pelemahan IHSG yang cukup dalam. Namun, perlu dicatat bahwa target 9.000 bukan tanpa risiko. Ketidakpastian global, kebijakan moneter AS, dan perlambatan ekonomi China masih menjadi bayang-bayang. Anindya sendiri menegaskan bahwa kritik terhadap ekonomi harus dijawab dengan kinerja nyata, bukan sekadar optimisme.
Pertanyaan besarnya kini: akankah pemerintah dan emiten mampu membangun kepercayaan pasar dalam waktu dekat? Atau justru tekanan eksternal akan semakin memperpanjang masa pemulihan? Dengan fundamental yang masih terjaga, peluang tetap ada, namun waktu yang dibutuhkan mungkin lebih lama dari perkiraan.



