Rolling Stones Rampungkan Album Baru dalam Sebulan, Bukti Kreativitas Tanpa Henti
Baca dalam 60 detik
- Band legendaris The Rolling Stones mengungkapkan album ke-25 mereka, 'Foreign Tongues', selesai direkam hanya dalam waktu empat minggu di London.
- Proses cepat ini didorong oleh produktivitas vokalis Mick Jagger yang disebut rekan setimnya Keith Richards 'tak mau berhenti' berkarya.
- Rilis album ini dirayakan dengan pertunjukan drone 500 unit yang membentuk logo lidah khas band di atas Sungai Thames.

The Rolling Stones membuktikan bahwa usia bukan penghalang untuk berkarya cepat. Band rock legendaris asal Inggris itu mengumumkan album studio ke-25 mereka, Foreign Tongues, rampung dalam waktu kurang dari sebulan—sebuah pencapaian langka di industri musik yang biasanya memakan waktu berbulan-bulan hingga bertahun-tahun.
Album yang dirilis pada Jumat (10/07/26) ini digarap di Metropolis Studios, London, dengan melibatkan deretan musisi tamu bergengsi: Steve Winwood, Robert Smith (The Cure), Sir Paul McCartney, dan Bruno Mars. Dalam pernyataan resmi, band menyebut proses rekaman berlangsung sangat menyenangkan dan cepat. “Kami menyelesaikan album ini dalam waktu di bawah sebulan di studio kota kelahiran kami, London—sungguh menyenangkan. Kritikus tampaknya menyukainya, kami harap semua orang juga menyukainya!” tulis mereka.
Peluncuran album ini dirayakan dengan pesta gemerlap di ibu kota Inggris pada Rabu malam (08/07/26). Puncak acara adalah pertunjukan cahaya 500 drone yang membentuk logo lidah dan bibir khas The Rolling Stones di atas landmark Big Ben dan London Eye. Musik pengiringnya adalah lagu anyar mereka, In The Stars. “Pertunjukan drone ini adalah metafora yang pas untuk melihat lidah Stones yang ikonik dan sangat dicintai melayang di atas Sungai Thames, merayakan album yang dibuat di kota London,” demikian bunyi pernyataan penyelenggara.
Kecepatan produksi album ini tidak lepas dari peran Mick Jagger. Gitaris Keith Richards, dalam wawancara dengan The Guardian, bercanda bahwa rekannya itu “tak mau berhenti” menciptakan musik. “Mick akhir-akhir ini sangat produktif, itulah salah satu alasan album ini keluar begitu cepat, karena dia tidak mau berhenti. Momentum dari album sebelumnya, Hackney Diamonds, begitu besar sehingga album ini seperti kelanjutan nafas yang sama. Saya hanya membiarkannya mengalir—kami punya cukup materi jika ingin terus mendorong, jadi Mick dan saya saling bertukar pandangan sinis dan berkata, ‘Ya, mari kita terus dorong’,” ujar Richards.
Richards juga mengungkapkan bahwa dinamika antara dirinya dan Jagger kini lebih lunak dibanding masa lalu. “Tidak banyak lagi pertarungan. Dia sudah mematahkan pedangnya, mematahkan tombaknya. Itu hal lain yang Mick dan saya tinggalkan, mungkin karena usia. Atau setidaknya dia sudah lama tidak menyerang saya, jadi saya anggap kami sudah berdamai,” kelakarnya.
Bagi penggemar musik di Indonesia, kabar ini menjadi pengingat bahwa band yang telah eksis lebih dari enam dekade masih mampu menghasilkan karya segar dalam waktu singkat. Di tengah industri musik yang didominasi artis muda dan produksi berbasis digital, The Rolling Stones membuktikan bahwa esensi rock ‘n’ roll—spontanitas dan kolaborasi—tetap relevan. Pertanyaannya, apakah album secepat ini akan mempertahankan kualitas yang diharapkan para penggemar setia? Hanya waktu yang akan menjawab, namun satu hal pasti: semangat kreatif The Stones belum padam.



