Menelusuri Jejak Drama Mandarin Singapura: Pameran yang Menghidupkan Kenangan
Baca dalam 60 detik
- Pameran 'Singapore TV: From Local to Global' di SCCC menampilkan sejarah drama Mandarin Singapura dari 1960-an hingga kini, dengan kostum asli dan artefak ikonik.
- Lebih dari sekadar nostalgia, pameran ini menyoroti evolusi industri kreatif Singapura yang bisa menjadi referensi bagi pengembangan konten serupa di Indonesia.
- Berlangsung hingga Januari 2027, pameran gratis ini menawarkan pengalaman interaktif seperti bilik sulih suara dan panggung pidato ala Star Awards.

Pameran bertajuk “Singapore TV: From Local to Global” resmi dibuka di Singapore Chinese Cultural Centre (SCCC), mengajak pengunjung menyusuri perjalanan drama berbahasa Mandarin di Singapura sejak era 1960-an hingga produksi kontemporer. Lebih dari sekadar nostalgia, ajang ini menjadi cermin bagaimana industri pertelevisian negeri jiran itu bertransformasi—sebuah pelajaran berharga bagi ekosistem kreatif di Indonesia yang tengah giat mendorong konten lokal.
Diselenggarakan oleh SCCC bersama Mediacorp, pameran yang berlangsung hingga 26 Januari 2027 ini menghadirkan koleksi kostum orisinal, properti, foto, majalah, dan instalasi multimedia dari drama-drama legendaris. Lima zona tematik memetakan setiap dekade, mulai dari masa awal drama Mandarin hingga era digital saat ini. Salah satu daya tarik utamanya adalah Bantal Emas dari drama “The Golden Pillow” yang dipajang di atas pedestal—pengunjung bisa mendekatkan telinga untuk mendengar bisikan pesan misterius.
Bagi para aktor senior seperti Zoe Tay dan Xiang Yun, pameran ini membangkitkan memori yang lama terkubur. Foto hitam-putih Tay saat memenangkan ajang Star Search 1988 misalnya, mengingatkannya pada momen haru ketika ia mencari ayahnya di antara kerumunan. “Saya bilang, jika menang mobil, ayah bisa menyetirnya,” kenang Tay. Mobil itu kemudian menjadi kendaraan yang mengantarnya ke lokasi syuting di awal karier. Sementara itu, Xiang Yun mengenang adegan berbahaya di “The Awakening” (1984) ketika ia harus melompat dari lantai dua toko ke tumpukan kardus—adegan yang membuat perutnya mual seharian.
Pameran ini tidak hanya merayakan pencapaian masa lalu, tetapi juga menyoroti bagaimana drama Mandarin Singapura mampu menjangkau audiens global. Bagi Indonesia, yang memiliki industri sinetron dan film berbahasa daerah yang kaya, pameran ini bisa menjadi inspirasi untuk mendokumentasikan dan mempromosikan warisan budaya melalui medium televisi. Apalagi, tren platform streaming kini membuka peluang bagi konten lokal untuk menembus pasar internasional.
Xiang Yun berharap generasi muda mau menonton ulang drama-drama lama seperti “The Awakening”. Menurutnya, serial itu mampu membangkitkan emosi mendalam karena bercerita tentang perjuangan generasi sebelumnya. “Acara-acara seperti itulah yang bisa mengeluarkan perasaan yang dalam,” ujarnya. Pesan ini relevan bagi Indonesia, di mana banyak sinetron era 1990-an seperti “Si Doel Anak Sekolahan” atau “Tersanjung” masih dikenang karena kekuatan narasinya.
Dengan durasi pameran yang panjang—lebih dari dua tahun—SCCC dan Mediacorp memberi kesempatan luas bagi masyarakat Singapura dan wisatawan untuk menikmati perjalanan sejarah ini. Pertanyaannya, akankah Indonesia mengikuti jejak serupa untuk melestarikan dan mempromosikan khazanah televisi nasional? Di tengah gempuran konten asing, langkah semacam itu bisa menjadi strategi jitu untuk memperkuat identitas budaya dan industri kreatif tanah air.



