Wawancara Terakhir Bonnie Tyler: Cinta pada Panggung hingga Akhir Hayat
Baca dalam 60 detik
- Bonnie Tyler mengaku tak pernah berniat pensiun dalam wawancara televisi terakhirnya, beberapa bulan sebelum meninggal dunia akibat komplikasi pascaoperasi usus.
- Penyanyi legendaris asal Wales itu meninggalkan warisan musik abadi seperti 'Total Eclipse of the Heart' yang telah diputar lebih dari satu miliar kali di Spotify.
- Kepergiannya menuai penghormatan dari rekan musisi, termasuk Cliff Richard, dan menyisakan duka bagi penggemar di seluruh dunia.

Bonnie Tyler, penyanyi rock legendaris asal Wales, menghembuskan napas terakhir di usia 75 tahun setelah menjalani perawatan intensif di Portugal akibat komplikasi pascaoperasi usus berlubang. Kepergiannya menyisakan duka mendalam, namun semangatnya untuk terus bernyanyi hingga akhir hayat terekam jelas dalam wawancara televisi terakhirnya yang kini kembali menjadi sorotan.
Dalam wawancara dengan program Lorraine di ITV pada Februari lalu, Bonnie—nama panggung dari Gaynor Hopkins—tampak bersemangat membahas rencana tur konser di Inggris, termasuk Manchester, London, dan Cardiff. Ia dengan tegas menepis anggapan bahwa dirinya akan pensiun. “Saya sering bilang tahun depan saya akan pelan-pelan… tapi saya cinta apa yang saya lakukan,” ujarnya, seperti dikutip dalam rekaman yang beredar. “Anak-anak band sangat menyenangkan diajak jalan. Kami bersenang-senang di atas panggung. Saya banyak bercerita di sela-sela lagu.”
Wawancara itu menjadi makin mengharukan setelah Bonnie meninggal dunia pada Rabu (8/7/2026) di rumah sakit Faro, Portugal. Keluarganya mengonfirmasi bahwa ia sempat dirawat dalam kondisi kritis setelah operasi darurat, lalu ditempatkan dalam koma induksi, dan sempat sadar pada Juni sebelum akhirnya mengalami komplikasi lanjutan. “Keluarga dan tim Bonnie sangat berduka mengumumkan bahwa Bonnie meninggal secara tak terduga tadi malam di rumah sakit di Portugal,” demikian pernyataan di situs resminya.
Bonnie Tyler bukan sekadar penyanyi; ia adalah ikon yang lagu-lagunya melintasi generasi. 'Total Eclipse of the Heart' yang ditulis Jim Steinman menjadi anthem global pada 1983, sementara 'Holding Out for a Hero' terus diputar ulang di film dan serial. Dalam wawancara itu, ia juga tertawa saat presenter Lorraine Kelly bercanda soal royalti streaming yang minim. “Saya tidak menulis lagu itu… saya hanya penyanyi!” sahutnya ringan.
Karier Bonnie dimulai dari pub-pub kecil di Wales sebelum namanya melesat lewat 'It's a Heartache' pada akhir 1970-an. Suara seraknya yang khas menjadikannya salah satu vokalis rock terbaik Inggris. Ia juga mewakili Inggris di Eurovision 2013 dan menerima penghargaan MBE pada 2023. Di Indonesia, lagu-lagunya kerap diputar di radio era 80-an dan menjadi favorit di kalangan penggemar musik klasik.
Penghormatan mengalir dari berbagai pihak. Sir Cliff Richard menulis di Facebook, “Teman yang luar biasa pergi terlalu cepat. Semangat hidup Bonnie yang menular menghibur banyak orang di seluruh dunia.” Sementara itu, sejumlah jadwal tur yang sempat ditunda akibat kesehatannya yang memburuk kini batal selamanya.
Kepergian Bonnie Tyler menandai berakhirnya era seorang diva yang tak pernah lelah menghibur. Pertanyaan yang kini menggantung: akankah warisan musiknya terus dikenang oleh generasi mendatang, atau perlahan memudar seperti gema gerhana yang sunyi?



