James Garner, Gelandang yang Dilepas MU dengan Harga Murah, Kini Bersinar di Everton
Baca dalam 60 detik
- Manchester United melepas James Garner ke Everton seharga £9 juta pada 2022, kini ia menjelma menjadi gelandang box-to-box elite Premier League.
- Statistik Garner musim lalu unggul jauh dibanding Andrey Santos yang baru dibeli MU £50 juta, terutama dalam duel darat dan tekel.
- Keputusan melepas Garner menjadi pelajaran berharga bagi MU di tengah kebutuhan mendesak akan gelandang bertahan musim panas ini.

Manchester United harus menelan pil pahit setelah keputusan melepas James Garner ke Everton pada 2022 lalu kini terbukti sebagai kesalahan strategis. Gelandang yang hanya dibanderol £9 juta tersebut berkembang menjadi salah satu pemain tengah terbaik Premier League, jauh melampaui ekspektasi dan bahkan mengungguli rekrutan anyar MU, Andrey Santos, yang ditebus dengan harga £50 juta dari Chelsea.
Garner, 25 tahun, menghabiskan seluruh masa mudanya di akademi MU namun hanya tampil tujuh kali di tim utama. Setelah sukses membawa Nottingham Forest promosi ke Premier League pada 2021/22, ia justru dijual ke Everton dengan harga murah. Kini, ia menjadi bukti nyata betapa mahalnya harga sebuah kesalahan perencanaan skuad.
Statistik musim lalu menunjukkan Garner unggul di berbagai aspek. Ia menciptakan 0,4 peluang besar per 90 menit, menempatkannya di 15 persen terbaik gelandang Premier League. Tanpa bola, ia memenangkan 61 persen duel darat dan melakukan 3,2 tekel per 90 menit—keduanya masuk 10 persen teratas liga. Pelatih timnas Inggris, Thomas Tuchel, bahkan menjulukinya "mini Valverde", sementara jurnalis Rob Fleming menyebutnya "salah satu yang terbaik di Premier League".
Perbandingan dengan Andrey Santos semakin memperjelas ironi ini. Santos, yang baru bergabung dengan MU, hanya mencatatkan 2,7 tekel dan 1,4 intersepsi per 90 menit musim lalu, berada di 25 persen teratas. Angka tersebut masih jauh dari capaian Garner. Padahal, MU saat ini sangat membutuhkan gelandang bertahan yang bisa memenangkan duel dan memutus serangan lawan—tepat seperti yang dimiliki Garner.
Keputusan MU melepas Garner menjadi pengingat bahwa investasi pada pemain muda akademi kerap kali lebih menguntungkan dibanding membeli pemain mahal dari klub lain. Di tengah rencana INEOS yang ingin membangun kembali skuad, kasus Garner seharusnya menjadi bahan evaluasi serius. Alih-alih mengeluarkan dana besar untuk pemain yang belum terbukti, MU sebenarnya memiliki talenta sendiri yang siap bersaing.
Bagi penggemar sepak bola Indonesia, kisah Garner relevan dengan fenomena klub-klub besar yang kerap melepas pemain muda potensial lalu menyesal di kemudian hari. Di era regulasi finansial yang ketat, efisiensi transfer menjadi kunci. MU kini harus menghadapi kenyataan bahwa mereka membayar mahal untuk pemain yang belum tentu lebih baik dari yang pernah mereka miliki.
Ke depan, pertanyaan besarnya adalah: mampukah Andrey Santos membuktikan diri layak seharga £50 juta? Atau akankah ia menjadi pengingat lain bahwa MU gagal belajar dari kesalahan masa lalu? Sementara itu, Garner terus membuktikan bahwa harga bukanlah segalanya—konsistensi dan perkembangan adalah kunci sukses di Premier League.



