IHSG Menguat, Asing Borong Saham Bank dan Tambang: Sinyal Kepercayaan atau Sekadar Aksi Selektif?
Baca dalam 60 detik
- Investor asing mencatatkan pembelian bersih Rp257,3 miliar di saham Merdeka Battery Materials, menjadi yang terbesar di pasar reguler.
- Saham perbankan seperti Bank Mandiri dan BCA juga diburu, menandakan minat kembali ke sektor keuangan di tengah penguatan IHSG.
- Meski ada aksi beli besar, secara keseluruhan asing masih jual bersih Rp259,4 miliar, menunjukkan strategi yang sangat selektif.

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) kembali menghijau pada perdagangan Kamis (9/7/2026), ditopang oleh aksi borong investor asing di sejumlah saham berkapitalisasi besar, terutama dari sektor perbankan dan komoditas. Langkah ini menjadi sinyal optimisme, namun di sisi lain masih menyisakan tanda tanya soal keberlanjutan aliran dana asing ke pasar modal Indonesia.
Berdasarkan data Bursa Efek Indonesia (BEI), saham PT Merdeka Battery Materials Tbk. (MBMA) menjadi primadona dengan net buy asing mencapai Rp257,3 miliar di pasar reguler. Transaksi ini didominasi di pasar negosiasi, di mana sebanyak 5,47 juta lot berpindah tangan dengan nilai total Rp261,5 miliar. Aksi beli ini mengindikasikan keyakinan investor global terhadap prospek industri baterai kendaraan listrik yang terus tumbuh.
Tak hanya MBMA, saham perbankan pun kebanjiran pesanan asing. PT Bank Mandiri (Persero) Tbk. (BMRI) mencatat net buy Rp87,5 miliar, disusul PT Bank Central Asia Tbk. (BBCA) sebesar Rp47,1 miliar. Masuknya dana asing ke dua bank besar ini menandakan kembalinya minat terhadap sektor keuangan domestik, yang sempat tertekan oleh ketidakpastian suku bunga global.
Di sektor energi dan tambang, PT Raharja Energi Cepu Tbk. (RAJA) dan PT Darma Henwa Tbk. (DEWA) masing-masing diborong asing senilai Rp40,5 miliar. Saham-saham komoditas seperti ANTM dan AMMN juga masuk dalam daftar net buy terbesar, menunjukkan bahwa investor asing masih melirik kekayaan sumber daya alam Indonesia di tengah gejolak harga global.
Namun, di balik aksi borong tersebut, data menunjukkan investor asing secara keseluruhan masih mencatatkan jual bersih (net sell) Rp259,4 miliar di seluruh pasar reguler. Artinya, aksi beli masih sangat selektif dan terfokus pada saham-saham tertentu. Hal ini mencerminkan sikap wait-and-see pelaku pasar global terhadap prospek ekonomi Indonesia, terutama menjelang rilis data inflasi dan kebijakan suku bunga bank sentral Amerika Serikat.
Bagi investor domestik, fenomena ini menjadi pengingat bahwa aliran dana asing belum sepenuhnya kembali. Meski IHSG menguat, sentimen pasar masih rapuh. Sektor perbankan dan komoditas menjadi pilihan aman karena fundamentalnya yang solid, namun risiko outflow masih mengintai jika kondisi global memburuk. Ke depan, pergerakan IHSG akan sangat bergantung pada konsistensi aksi beli asing dan stabilitas makroekonomi Indonesia.



