Survei: Hanya 17% Warga Ukrainia Anggap Trump Sahabat, Mayoritas Justru Musuh
Baca dalam 60 detik
- Jajak pendapat terhadap 1.801 warga Ukraina menunjukkan hanya 17% menilai Trump sebagai sahabat, sementara 34% menganggapnya musuh.
- Ketidakpercayaan terhadap tim negosiasi AS—Kushner dan Witkoff—mencapai 57%, dengan hanya 2% memiliki kepercayaan tinggi.
- Meski skeptis terhadap Trump, 73% warga Ukraina tetap memandang rakyat Amerika sebagai sahabat, membuka peluang bagi pemulihan citra AS.

Hanya 17 persen warga Ukraina yang menganggap Presiden Amerika Serikat Donald Trump sebagai sahabat, sementara lebih dari dua kali lipatnya—atau 34 persen—menilainya sebagai musuh. Temuan ini berasal dari survei terbaru yang dilakukan Kyiv International Institute of Sociology pada Juni 2026, melibatkan 1.801 responden di wilayah yang dikuasai pemerintah Ukraina.
Survei tersebut mengungkapkan bahwa hampir seperempat responden (24%) menyatakan Trump berada di antara sahabat dan musuh, sementara 25% lainnya menjawab tidak tahu. Angka ini mencerminkan kekecewaan mendalam terhadap kebijakan Trump yang dinilai terlalu akomodatif terhadap Rusia. Sejak kembali menjabat, Trump memangkas bantuan militer langsung ke Ukraina, meskipun senjata buatan AS masih mengalir melalui pendanaan Eropa. Paket bantuan militer senilai 400 juta dolar AS yang dijanjikan pun hingga kini belum direalisasikan.
Ketegangan semakin terasa ketika Trump secara terbuka menekan Presiden Volodymyr Zelenskyy untuk menyerahkan wilayah Donbas demi memenuhi ambisi teritorial Vladimir Putin. Pada pertemuan di Oval Office tahun 2025, Trump bahkan dilaporkan mencaci maki Zelenskyy. Meski demikian, Washington masih memasok intelijen untuk serangan drone Ukraina ke Rusia dan memberlakukan sanksi terhadap ekspor minyak Moskow, meski dengan beberapa pengecualian.
Ketidakpercayaan juga tertuju pada tim negosiasi AS yang dipimpin oleh menantu Trump, Jared Kushner, dan rekannya Steve Witkoff. Sebanyak 57% responden menyatakan tidak memiliki kepercayaan sama sekali terhadap keduanya, sementara hanya 2% yang sangat percaya. Zelenskyy sebelumnya mengundang Kushner dan Witkoff untuk mengunjungi Kyiv, namun mereka menolak dengan alasan tidak ingin sekadar "foto opsional". Sikap ini dinilai Zelenskyy sebagai bentuk penghinaan, mengingat mereka justru sempat ke Moskow.
Konflik Ukraina semakin terpinggirkan setelah pecahnya perang Iran pada awal 2026. Baterai rudal Patriot yang sangat dibutuhkan Ukraina dialihkan ke Timur Tengah, menyebabkan pertahanan udara Ukraina menipis. Akibatnya, lebih banyak rudal Rusia yang lolos dan menewaskan warga sipil. "Sayangnya, kami berada dalam antrean perang," keluh Zelenskyy baru-baru ini.
Menariknya, meskipun sentimen terhadap Trump dan pemerintahannya rendah, warga Ukraina tetap membedakan antara kebijakan presiden AS dan rakyat Amerika. Sebanyak 73% responden menganggap rakyat Amerika sebagai sahabat, sementara hanya 4% yang menganggapnya musuh. Hal ini menunjukkan bahwa citra positif masyarakat AS masih utuh di mata Ukraina, meskipun kepemimpinan Trump dinilai merusak reputasi Washington.
Bagi Indonesia, dinamika ini relevan mengingat posisi non-blok yang kerap diambil Jakarta. Ketidakpercayaan terhadap negosiasi yang dipimpin AS bisa menjadi pelajaran tentang pentingnya mediasi yang inklusif dan tidak memihak. Sementara itu, kemampuan Ukraina memisahkan citra rakyat dari pemimpinnya mengingatkan bahwa opini publik bisa lebih kompleks dari sekadar stereotip politik.
Ke depan, Washington menghadapi tantangan besar untuk memulihkan kepercayaan Ukraina jika ingin berperan sebagai penengah perdamaian. Dengan dukungan rakyat yang masih kuat, peluang itu terbuka—asalkan para pemimpin AS mau mendengar dan tidak mengulangi kesalahan yang sama.



