Eriksen Jalani Rehabilitasi di Denmark Usai Kembali Kolaps di Lapangan
Baca dalam 60 detik
- Gelandang Wolfsburg Christian Eriksen akan memulai program pemulihan individu di Denmark setelah pingsan dalam laga uji coba melawan Ukraina pada Juni lalu.
- Insiden terakhir dipicu oleh alat pacu jantung (ICD) yang berfungsi normal, berbeda dengan serangan jantung yang dialaminya di Euro 2020.
- Karier Eriksen di klub-klub Eropa bergantung pada regulasi masing-masing liga; Italia melarang pemain dengan ICD, sementara Inggris dan Jerman mengizinkannya.

Christian Eriksen, gelandang serang Wolfsburg berusia 34 tahun, akan menjalani rehabilitasi individu di kampung halamannya, Denmark, setelah kembali mengalami kolaps saat laga persahabatan melawan Ukraina pada awal Juni lalu. Insiden yang terjadi di Odense itu mengingatkan publik pada peristiwa dramatis di Euro 2020, namun kali ini Eriksen menyatakan alat pacu jantung implan (ICD) yang ditanam di tubuhnya bekerja sesuai fungsinya.
Dalam pertandingan yang dihentikan pada menit ke-65 dan akhirnya dibatalkan, Eriksen sempat berjalan keluar lapangan dengan bantuan tim medis. Ia kemudian menjalani serangkaian pemeriksaan dan dipastikan dalam kondisi stabil. โSituasi ini berbeda dengan apa yang terjadi pada 2021,โ ujar Eriksen dalam pernyataan resmi. Ia menambahkan bahwa ICD-nya โmelakukan persis apa yang dirancang untuk dilakukan: melindungi saya saat saya membutuhkannya.โ
Keputusan memulangkan Eriksen ke Denmark diambil setelah diskusi antara pemain, manajemen Wolfsburg, dan direktur olahraga Dieter Hecking. Klub Bundesliga itu menegaskan akan terus berkomunikasi secara rutin dengan Eriksen dan tim dokter yang menanganinya. โKami terus mendoakan yang terbaik bagi Christian dalam pemulihannya,โ tulis pernyataan resmi Wolfsburg.
ICD adalah alat seukuran setengah ponsel yang ditanam di bawah kulit, biasanya dekat ketiak, dengan kabel tipis menuju jantung. Fungsinya mirip defibrilator mini: jika mendeteksi detak jantung tidak normal, alat ini akan mengirimkan kejutan listrik untuk mengembalikan irama normal. Ada pula tipe lain yang ditanam di bawah tulang selangka dan berfungsi seperti pacu jantung biasa. Keberadaan ICD memungkinkan atlet seperti Eriksen tetap berkompetisi di level tertinggi, meski tidak semua liga sepak bola memiliki kebijakan yang sama.
Bagi penggemar sepak bola di Indonesia, kasus Eriksen menjadi pengingat pentingnya deteksi dini dan penanganan kondisi jantung pada atlet. Di Tanah Air, beberapa pemain profesional juga pernah mengalami insiden serupa, meski belum ada regulasi khusus yang seragam. Federasi Sepak Bola Indonesia (PSSI) dan klub-klub Liga 1 dapat menjadikan pengalaman Eriksen sebagai referensi untuk menyusun protokol kesehatan yang lebih ketat, terutama terkait pemeriksaan kardiovaskular rutin bagi pemain.
Ke depan, pertanyaan besar yang mengemuka adalah apakah Eriksen akan kembali bermain di level kompetitif setelah menjalani rehabilitasi. Dengan riwayat dua kali kolaps di lapangan, keputusan medis dan regulasi liga tempat ia bermain akan menjadi faktor penentu. Wolfsburg sendiri belum memberikan batas waktu pasti kapan pemain asal Denmark itu bisa kembali merumput.



